Surabaya (beritajatim.com) – Pakar Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Alutsyah Luthfian meminta publik mewaspadai aktivitas Gunung Semeru dan Gunung Merapi. Pasalnya, kedua gunung api itu berada di kawasan padat penduduk.
“Kalau gunung api yang perlu diwaspadai saat ini, saya pikir Semeru dan Merapi. Keduanya perlu perhatian karena berada dekat zona pusat penduduk,” ujar Luthfian di Surabaya, Senin (7/9/2026).
Pria yang akrab disapa Fian ini mengungkapkan, erupsi Gunung Semeru tergolong sulit diprediksi. Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut sering kali meletus besar tanpa menunjukkan tanda awal yang jelas.
“Semeru ini lebih perlu diwaspadai karena perilaku letusannya tidak bisa diprediksi dengan baik. Kadang-kadang Semeru bisa meletus besar tanpa ada aba-aba sebelumnya,” kata Fian.
Soal erupsi sejumlah gunung api yang terjadi secara berdekatan di Indonesia, Fian meluruskan bahwa fenomena itu bukan berarti menunjukkan hubungan langsung antar gunung.
“Gunung api punya siklus dan karakter masing-masing. Jadi ketika beberapa gunung aktif dalam waktu berdekatan, belum tentu aktivitasnya saling berkaitan,” tutur Fian.
Ia menjelaskan, pembuktian keterkaitan antar gunung api wajib menggunakan kajian data geofisika bawah permukaan. Penilaian tidak bisa dilakukan hanya dari kesamaan waktu aktivitas.
“Tidak bisa hanya melihat waktunya berdekatan kemudian menyimpulkan bahwa satu gunung memicu gunung yang lain. Harus dilihat data dan kondisi masing-masing gunung,” ucapnya.
Fian juga menyinggung aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan laut. Karakteristik gunung tersebut berbeda karena potensi longsoran tubuh gunung ke laut dapat memicu gelombang tsunami.
“Setiap gunung punya sistem magmatik sendiri. Jadi kita tidak bisa mengatakan karena Anak Krakatau aktif, kemudian Semeru ikut aktif, atau sebaliknya,” kata Fian.
Tim Departemen Teknik Geofisika ITS kini terus meneliti sinyal pendahulu sebelum letusan terjadi. Namun, pemantauan menyeluruh tetap menjadi kunci penanganan risiko bencana.
“Paling penting tetap pemantauan. Kita tidak bisa mengatakan gunung akan meletus hanya berdasarkan satu parameter,” tegas Fian.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak panik dan tetap memantau informasi resmi dari PVMBG, ESDM, BNPB, serta BMKG agar terhindar dari disinformasi erupsi gunung api. “Tetap monitor situasi. Tetap waspada, tetap awas, tetap siaga. Jangan sampai kita lengah,” pangkas Fian. [ipl/beq]






