Ponorogo (beritajatim.com) – Aji Wengker, sebagai paguyuban yang mengolah pusaka dan budaya leluhur di Ponorogo, melakukan ritual pencucian pusaka. Pencucian pusaka yang lebih dikenal dengan tradisi jamasan ini, juga bisa sebagai bentuk untuk nguri-nguri budaya dari leluhur, yang sarat makna dan filosofis. Tidak hanya prosesi jamasan pusaka, paguyuban Aji Wengker juga melakukan kiran dan larung sesaji. Hal itu bertujuan sebagai sarana untuk mendoakan bangsa ini.
Jika lazimnya jamasan dilakukan saat bulan Suro dalam penanggalan Jawa, paguyuban Aji Wengker melakukan jamasan pusaka leluhur yang sudah berusia ratusan tahun dilakukan pada hari ini. Pusaka leluhur berupa keria itu, dijamas oleh sedikitnya 54 orang yang benar-benar pecinta budaya dan pusaka. Layaknya jamasan di bulan Suro, pencucian pusaka ini juga terlihat sangat sakral. Penggunaan air untuk menjamas pun diambil dari 7 mata air dan juga digunakan bunga 7 macam. Saat prosesi jamasan berlangsung, baik petugas maupun warga yang melihat di lokasi dilarang untuk berbicara sepatah kata pun.
Ketua Aji Wengker Ponorogo, Titis Mursito menceritakan jamasan yang dilakukan hari ini pun ada sejarahnya. Dalam kalender Jawa, saat ini merupakan tepat pada waktu wuku tumpak landep atau otonan besi. Atau, dalam sebuah penanggalan Jawa, wuku tumpak landep ini jatuh setiap 210 hari sekali. Tradisi jamasan pusaka sat wuku tumpak landep maupun wuku galungan ini, sebenarnya sudah ada pada zaman nenek moyang. Atau lebih tepatnya sebelum era Sultan Agung yang memimpin Kerajaan Mataram. Sebab, setelah era Sultan Agung itu, jamasan dilakukan di tahun baru islam atau bulan Suro.
“Kegiatan hari ini sebenarnya tradisi jawa terkait jamasan yang dilakukan sebelum era Sultan Agung. Sebelum era itu, tradisi jamasan itu dilakukan pada whku tumpak landep atau pada waktu wuku galungan,” ungkap Titis, Sabtu (6/3/2023).
BACA JUGA:
Jelang Waisak, Warga Sodong Ponorogo Lakukan Ritual Mandi Rupang Buddha
Dengan penjamasan pusaka leluhur saat wuku tumpak landep ini, Titis menginginkan bisa membangkitkan dan menggali lagi tradisi yang sudah hilang. Dengan harapan, supaya tradisi ini tetap lestari dan tetap menjadi tradisi yang sakral. Selain melakukan jamasan, anggota Aji Wengker juga melakukan ritual kirab dan larung tumpeng di sungai Sekayu. “Rangkaian dari jamasan, kirab hingga larung tumpeng di sungai Sekayu ini, dengan harapan dan doa agar bangsa Indonesia terus diberi kemakmuran dan terhindar dari malapetaka,” pungkasnya. (kun)






