Lumajang (beritajatim.com) — Hari masih gelap ketika satu per satu warga lereng Gunung Semeru keluar dari Balai Desa Penanggal lumajang.
Embun pagi masih menempel di rumput, dingin menusuk, tapi langkah mereka mantap—seolah ada sesuatu yang memanggil pulang.
Sebanyak 40 warga yang sempat mengungsi itu memutuskan kembali ke rumah masing-masing, Kamis (20/11/2025). Mereka pulang dengan hati yang masih bergetar, namun juga dengan kerinduan yang tak lagi bisa ditahan.
Mereka bukan pengungsi baru. Mereka adalah orang-orang yang membawa kenangan luka dari erupsi 2021, ketika langit berubah kelabu dan hidup berubah arah.
“Mereka ini mengungsi karena trauma dengan insiden yang menelan korban jiwa,” kata Agus, warga Desa Sumbermujur, yang sejak pagi menemani para tetangganya satu per satu angkat barang. Ia menambahkan bahwa sebagian besar dari mereka adalah penghuni hunian tetap (huntap) penyintas erupsi empat tahun silam.
Semeru kembali meninggikan suaranya pekan ini—getaran, asap, kabar dari radio HT, dan laporan petugas—cukup untuk membuat sebagian warga memilih meninggalkan rumah barang semalam. Tidak semua pergi jauh; ada yang hanya menumpang di rumah saudara di Sumbermujur. Yang penting, hati mereka merasa lebih aman.
Dari pantauan di Balai Desa Penanggal, aula pengungsian yang sempat sesak kini tampak lengang. Tikar-tikar masih terhampar, sisa kopi hitam tadi malam masih hangat, tapi para penghuninya sudah pulang sejak sebelum azan subuh. Mereka ingin mengecek pintu rumah, memeriksa kandang, menyapa ternak—hal-hal sederhana yang justru membuat dada terasa lebih tenang.
“Warga pulang karena ingin memastikan kondisi harta benda dan ternak yang ditinggalkan. Padahal hunian tetap atau huntara yang dibangun empat tahun lalu tidak terdampak seperti wilayah Pronojiwo. Tetapi trauma itu masih ada,” ujar Agus, suaranya pelan namun jujur.
Semeru mungkin telah mereda pagi ini, tapi di dada warga lerengnya, gunung itu masih menyisakan dua hal sekaligus: rasa hormat yang besar dan takut yang tak ingin diakui. Namun seperti pagi yang tetap terbit setelah malam panjang, mereka memilih kembali. Mencoba berdamai. Mencoba hidup lagi di kaki gunung yang mereka sebut rumah. (ted)






