Ngawi (beritajatim.com) – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) STKIP Modern Ngawi memberikan pelatihan pada masyarakat Ngawi untuk membuat menu untuk mencegah dan menangani stunting. Bahannya diklaim.mudah didapat karena merupakan hasil bumi lokal Ngawi.
Pelatihan itu diberikan pada masyarakat secara umum. Pelatihan membuat menu makanan, cemilan, dessert, dan minuman itu dilaksanakan di rumah kades Posyandu di Jalan Patiunus Kepatihan, Kelurahan Ketanggi Kecamatan/Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Senin (18/9/2023).
“Kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi STKIP Modern Ngawi dan Akademi Keperawatan yang berkomitmen dalam membantu Pemerintah Kabupaten Ngawi untuk menangani tingginya presentase prevelensi stunting yang mencapai 28,5% pada tahun 2022” kata Ketua Pengabdian kepada Masyarakat, Aba Sandi Prayoga, S.Pd, M.Or, AIFO
Aba menuturkan bahwa Kegiatan Hibah Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ini merupakan bentuk dukungan terhadap Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi dalam menangani kasus stunting.
Hasil survey SSGI menunjukkan bahwa persentase anak yang mengalami stunting di Kabupaten Ngawi mencapai tertinggi ke-4 di Jawa Timur, setelah Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso, dan Kabupaten Situbondo.
Simbol “Lumbung Padi Nasional” serta kekayaan hasil bumi Kabupaten Ngawi seyogyanya tidak representatif dengan tingginya kasus stunting di kabupaten Ngawi.
Problem tingginya prevelensi stunting yang tidak relevan dengan hasil bumi yang kaya akan gizi mengindikasikan perlunya edukasi masyarakat untuk melakukan pencegahan stunting dengan memanfaatkan potensi hasil bumi Kabupaten Ngawi.
Karenanya, Aba dan timnya menilih untuk memberikan pelatihan bagi masyarakat agar bisa mencegah dan menangani stunting.
Anggota PKM Hamidatus Daris Sa”Adah, M.Kes mengungkapkan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menemukan formulasi makanan, minuman, dessert, hingga cemilan yang tepat, nikmat, sehat dan bergizi untuk dikonsumsi. Menu tersebut memanfaatkan olahan hasil bumi disekitar lingkungan masyarakat Ngawi.
“Hasil kegiatan ini nantinya akan digunakan sebagai bahan untuk mengedukasi masyarakat tentang pencegahan stunting yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan hasil bumi disekitar tempat tinggal mereka.
Pada menu makanan, masyarakat diajari untuk memanfaatkan beras, wortel, sawi pak coy, dan bunga kol untuk dijadikan nasi capcay. Dalam proses pemasakannya olahan hasil bumi tersebut juga ditambah dengan bahan daging dan bakso untuk menambah kelezatan, gizi serta protein untuk mencegah stunting.
Baca Juga: Truk Ekspedisi Tabrak Truk Sapi di Lajur Darurat Tol Ngawi, Sopir Meninggal
Pada menu dessert, bisa memanfaatkan mangga dan pisang untuk dijadikan Manggo Smoothies. Dalam proses pemasakannya olahan hasil bumi tersebut juga ditambah dengan bahan lain seperti susu UHT dan pudding untuk menambah rasa gurih serta kandungan gizi dan protein didalamnya.
Pada menu minuman, bisa memanfaatkan melon untuk dijadikan sebagai jus melon susu. Dalam proses pemasakannya olahan hasil bumi tersebut juga ditambah dengan bahan susu UHT agar semakin bergizi dan disukai oleh anak-anak.
Pada menu cemilan, bisa memanfaatkan kacang tanah untuk dijadikan sebagai makanan kacang ting ting. Dalam proses pemasakannya olahan hasil bumi tersebut juga ditambah dengan bahan jahe dan gula aren untuk pemanis alami yang memiliki manfaat baik bagi kesehatan tubuh.
Selain olahan hasil bumi di atas masih terdapat hasil olahan bumi lain seperti alpukat yang dimanfaatkan sebagai jus dan kacang kedelei yang dimanfaatkan untuk minuman sari dele. [fiq/ted]






