Ringkasan Berita:
- Rata-rata okupansi hotel di Jawa Timur selama libur sekolah pertengahan 2026 masih berada di angka 55 persen.
- Malang mencatat okupansi tertinggi sebesar 70 persen, disusul Kota Batu dan Probolinggo sekitar 65 persen.
- Surabaya dan sejumlah kota lainnya masih berada di kisaran 45–55 persen, sedangkan Kediri mencapai 50 persen.
- PHRI Jawa Timur menargetkan okupansi hotel meningkat hingga 80 persen pada puncak musim liburan.
Surabaya (beritajatim.com) – Musim libur sekolah pertengahan tahun 2026 belum mampu mendongkrak tingkat hunian hotel di Jawa Timur secara signifikan. Meski sejumlah daerah tujuan wisata menunjukkan peningkatan okupansi, rata-rata keterisian kamar hotel di provinsi ini masih bertahan di angka 55 persen.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur, Dwi Cahyono, mengatakan capaian tersebut masih jauh dari target yang diharapkan pelaku industri perhotelan selama momentum liburan sekolah.
“Rata-rata okupansi hotel di Jawa Timur selama libur sekolah ini sekitar 55 persen. Target kami minimal bisa mencapai 80 persen pada puncak liburan,” kata Dwi pada Jumat (3/7/2026).
Menurut Dwi, peningkatan okupansi paling terasa terjadi di daerah yang menjadi destinasi wisata favorit. Malang menjadi wilayah dengan tingkat hunian hotel tertinggi yang mencapai sekitar 70 persen.
Di bawah Malang, okupansi hotel di Probolinggo dan Kota Batu masing-masing berada di kisaran 65 persen. Tingginya angka tersebut menunjukkan kawasan wisata alam dan pegunungan masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk menghabiskan masa libur sekolah bersama keluarga.
Sebaliknya, kondisi berbeda terjadi di kawasan perkotaan. Tingkat okupansi hotel di Surabaya dan wilayah penyangganya masih berada di kisaran 45 hingga 55 persen. Sementara itu, tingkat hunian hotel di Kediri tercatat sekitar 50 persen.
“Sementara okupansi hotel di wilayah Surabaya dan perkotaan sekitarnya masih berkisar 45-55 persen. Lalu Kediri 50 persen,” tuturnya.
Dwi menilai belum optimalnya tingkat hunian hotel dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya adalah masih berlangsungnya proses pendaftaran peserta didik pada tahun ajaran baru yang membuat banyak keluarga menunda rencana bepergian ke luar daerah.
“Kurang optimal karena masih banyak dipengaruhi pendaftaran tahun ajaran baru,” katanya.
Meski demikian, pelaku industri perhotelan di Jawa Timur tetap optimistis okupansi akan meningkat menjelang puncak musim liburan. Berbagai strategi promosi telah disiapkan untuk menarik minat wisatawan.
Sejumlah hotel menawarkan paket menginap dengan harga khusus, promo liburan keluarga, hingga menghadirkan beragam aktivitas dan hiburan bagi tamu selama masa libur sekolah. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan sekaligus mendongkrak tingkat keterisian kamar hotel hingga mencapai target 80 persen pada puncak musim liburan. [rma/beq]






