Surabaya (beritajatim.com) – Surabaya kehilangan salah satu putra terbaiknya. Adi Sutarwijono, yang akrab disapa Mas Awi, meninggal dunia pada Selasa, 10 Februari 2026, pukul 20.36 WIB di Jakarta.
Mas Awi lahir di Blitar, 4 Agustus 1968. Ia dikenal sebagai sosok yang meniti jalan panjang pengabdian—berangkat dari dunia jurnalistik hingga mencapai posisi strategis dalam politik lokal sebagai Ketua DPRD Kota Surabaya.
Kariernya dimulai sebagai wartawan Harian Surya dan Tempo, sebuah fase yang membentuk cara berpikirnya: tenang, berbasis data, dan peka terhadap kepentingan publik.
Nilai-nilai jurnalistik itu kemudian ia bawa ketika bergabung dengan PDI Perjuangan, membangun karier politik secara konsisten dari bawah, hingga dipercaya sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya dan selanjutnya memimpin lembaga legislatif Kota Surabaya.
Jurnalis yang Ditempa Zaman: Dari Kode 3 Huruf
Nama Adi Sutarwijono lebih akrab dipanggil Awi. Nama panggilan itu bukan sekadar sapaan, melainkan jejak profesionalisme yang lahir dari dunia jurnalistik.
“Awi” adalah kode tiga huruf yang digunakan sebagai identitas tulisannya saat berkiprah sebagai jurnalis di Harian Surya.
Bagi banyak wartawan muda kala itu, Awi bukan hanya reporter yang meliput peristiwa, melainkan guru pertama yang mengenalkan arti ketelitian dan tanggung jawab dalam menulis berita. Redaktur Pelaksana beritajatim.com, Teddy Ardianto H, menjadi salah satu saksi langsung sentuhan tangan dingin Mas Awi di ruang redaksi.
“Tahun 2000 saat saya masih wartawan baru Harian Surya. Pulang liputan, tulisan saya langsung ditangani Mas Awi untuk diedit,” kenang Teddy eks wartawan Surya.

Pengalaman tersebut membekas, bukan semata karena coretan koreksi, tetapi karena cara Mas Awi mengajarkan bahwa setiap kalimat memiliki konsekuensi, dan setiap berita memikul amanah publik.
Di Harian Surya, Adi Sutarwijono dikenal sebagai wartawan Desk Kota yang akrab dengan denyut politik Surabaya. Ia meliput peristiwa-peristiwa politik penting sejak era Reformasi 1998, masa ketika kebebasan pers diuji oleh ketegangan jalanan dan keberanian sikap.
Mas Awi kerap berada di garis depan liputan mimbar bebas kader militan PDI Pro Mega di kawasan Pandegiling, Surabaya. Di sana, gelora perlawanan terhadap runtuhnya Orde Baru menggema, dan pers menjadi mata sekaligus suara zaman.
“Saya masih ingat cerita Mas Awi yang sempat dibawa aparat untuk diinterogasi karena aktivitas politiknya yang dekat dengan PDI Pro Mega,” ujar Teddy.
Peristiwa tersebut menjadi penanda bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan pilihan sikap. Mas Awi menjalani peran itu dengan keberanian, menjadikan pengalaman lapangan sebagai bagian dari sejarah pribadi dan sejarah bangsa.
Cerita-cerita liputan itu masih diingat Teddy hingga kini, termasuk satu kisah yang menunjukkan betapa mahal harga keberanian seorang jurnalis kala itu.
Figur Penolong
Ketika sebagai Ketua DPRD, Mas Awi dikenal luas sebagai figur yang kalem, dingin, dan tidak reaktif. Ia menyelesaikan persoalan dengan dialog, bukan polemik. Dalam dinamika politik yang sering keras, Mas Awi memilih jalur sunyi: mendengar, merangkum, lalu mengambil keputusan secara matang. Ia tidak mencari sorotan, tetapi bekerja tuntas.
Bagi banyak orang, Mas Awi adalah penolong yang senyap—mudah dihubungi, ringan membantu, dan tidak pernah memperbesar persoalan. Ia hadir untuk menyelesaikan masalah, bukan memperpanjangnya. Sikap itu membuatnya dihormati lintas kalangan: kawan, lawan politik, jurnalis, aktivis, hingga warga biasa.
Kepergian Mas Awi bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan PDI Perjuangan, tetapi juga bagi Kota Surabaya—kehilangan seorang pemimpin yang menjunjung etika, kesantunan, dan akal sehat dalam berpolitik.
🌹 Selamat jalan, Mas Awi.
Terima kasih atas persahabatan, keteladanan, dan pengabdianmu.
Jejak langkahmu akan tetap hidup dalam ingatan kami dan dalam perjalanan Surabaya ke depan.
Jenazah almarhum akan diberangkatkan dari Jakarta pada Rabu (11/2/2026) siang untuk kemudian disemayamkan di Grand Heaven Surabaya pada pukul 15.30 WIB. Rencana pemakaman akan dilaksanakan pada Kamis (12/2/2026) pukul 14.30 WIB di Taman Makam Keputih Surabaya. Sebelumnya akan diberikan Penghormatan Terakhir di Gedung DPRD Kota Surabaya pada pukul 14.00 WIB. (tok/ted)






