Probolinggo (beritajatim.com) – Tahun 2026 menghadirkan momen langka ketika Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 19 Maret berlangsung berdekatan dengan Hari Raya Idulfitri. Dalam situasi tersebut, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo mengambil langkah tegas dengan menutup total akses menuju kawasan Gunung Bromo.
Kebijakan ini diberlakukan untuk memastikan umat Hindu Tengger dapat menjalankan Catur Brata Penyepian secara khusyuk tanpa gangguan aktivitas luar, termasuk lonjakan wisatawan saat libur Lebaran.
Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto, menyebut keputusan ini merupakan hasil koordinasi lintas daerah bersama PHDI di Pasuruan, Lumajang, dan Malang, serta instansi terkait lainnya.
“Meski bertepatan dengan Idulfitri, pelaksanaan Nyepi tetap harus berjalan sesuai ketentuan. Karena itu, kawasan Bromo kami sterilkan sementara dari seluruh aktivitas,” ujarnya, Rabu (18/3/2026) siang.
Penutupan dilakukan selama 24 jam penuh, dimulai pada 19 Maret 2026 pukul 06.00 WIB hingga 20 Maret 2026 pukul 06.00 WIB. Selama rentang waktu tersebut, tidak ada akses masuk dari berbagai jalur menuju kawasan Gunung Bromo.
Titik penutupan meliputi Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo; Desa Baledono dan Mororejo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan; serta kawasan Jemplang di Desa Ngadas, Kabupaten Malang.
PHDI mengimbau masyarakat, khususnya wisatawan yang memanfaatkan libur Idulfitri, untuk menyesuaikan rencana perjalanan dan tidak memaksakan diri menuju Bromo saat Nyepi berlangsung.
Menurut Bambang, bertepatan dua hari besar keagamaan ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai toleransi di tengah masyarakat.
“Ini bukan soal siapa yang didahulukan, tapi bagaimana semua pihak bisa saling menghormati. Dengan begitu, kerukunan tetap terjaga,” tegasnya.
Penutupan sementara kawasan Gunung Bromo ini diharapkan dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara tradisi, spiritualitas, dan kehidupan sosial masyarakat Suku Tengger. [ada/beq]






