Banyuwangi (beritajatim.com) – Hubungan harmonis antara agama dan budaya di Kabupaten Banyuwangi mendapat apresiasi banyak kalangan. Di antaranya dari para tokoh dan akademisi nasional dalam rangkaian kegiatan Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara (Ngariksa) di Pendopo Sabha Swagata Blambangan.
“Nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang di banyak tempat kerap kali mengalami ketegangan yang berkepanjangan, justru di Banyuwangi mampu didialogkan dan diharmonikan dengan baik. Ini patut menjadi contoh bagi Indonesia,” ungkap Penasehat Ngariksa Lukman Hakim Syaifuddin.
Menteri Agama periode 2014-2019 itu mencontohkan pagelaran Gandrung Sewu yang setiap tahun dihelat di Banyuwangi. Sebagai praktik kebudayaan, seringkali diperhadapkan dengan agama.
BACA JUGA:
Banyuwangi Penerima UKIM Terbanyak se-Jawa Timur
Namun, di Banyuwangi bisa berjalan harmonis. Riak-riak yang muncul didialogkan dengan baik.
“Saya kira ini adalah bentuk moderasi beragama yang telah terejawantah dengan baik. Tentu saja, ini berkat kesadaran kolektif masyarakatnya sekaligus adanya orkestrasi yang baik dari pemerintah daerahnya,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Ratusan Imam Masjid di Banyuwangi Dapat Uang Kehormatan
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengungkapkan bahwa keagamaan dan kebudayaan merupakan modal besar bagi Banyuwangi. Dua hal tersebut tak bisa diabaikan dalam derap pembangunan.
“Saat ini kami berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan pelayan. Kami mengadaptasi teknologi, menerapkan digitalisasi dan sebagainya. Namun, nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan menjadi nilai dasar dalam melandasi pembangunan tersebut,” ungkapnya. [rin/beq]






