Jember (beritajatim.com) – Nasib Tuli di Kabupaten Jember, Jawa Timur, benar-benar merana. Mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan di kota sendiri, namun justru diterima di kota lain.
“Teman-teman Tuli ketika melamar pekerjaan di mana pun ada penolakan,” kata Nurhayati, pembina Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), saat rapat dengar pendapat bersama Komisi D DPRD Kabupaten Jember, di gedung parlemen, Senin (4/8/2025).
Semasa pemerintahan Bupati Faida, menurut Nurhayati, Tuli sempat mendapat akses untuk melamar pekerjaan. “Tapi itu enggak lama. Hanya enam bulan, atau paling lama dua tahun. Saya berharap perusahaan bisa menerima teman-teman Tuli. Tidak pakai kontrak dan umurnya enggak dibatasi,” katanya.
Tuli juga ditolak saat melamar kerja menjadi mitra ojek online di Jember. “Padahal sebetulnya Tuli bisa jadi ojek. Kalau lihat di media sosial pernah ada konten ojek online yang tuli dan pakai tulisan di helm atau di belakangnya bisa (bekerja),” kata Nurhayati, dengan dibantu penerjemahan bahasa oleh Muhammad Iqbal Muhajir.
Ditolak di Jember, salah satu Tuli justru diterima sebagai pengemudi ojek online di Surabaya. “Yang biasanya menerima Tuli itu Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Gresik, Magetan. Kalau di Jember ini masih sangat terbatas sekali perusahaan yang mau menerima orang tuli,” kata Nurhayati.
Nurhayati sempat melamar kerja di salah satu pusat belanja modern di Jember. “Ternyata tidak bisa. Padahal saya sudah bilang: Tuli itu bisa kalau dikasih bagian nyapu, bersih-bersih itu bisa. Tapi ditolak karena tuli,” katanya.
Nurhayati berharap semua perusahaan doi Jember bisa menerima Tuli agar tidak mencari pekerjaan di luar kota. “Kalau ke luar kota biaya transpornya mahal dan teman-teman Tuli juga butuh pendamping,” katanya.
Nurhayati menambahkan, Tuli di Jember juga hendak mau membangun kafe khusus Tuli sekaligus mempromosikan bahasa isyarat. “Seperti di Jakarta itu sudah ada kafe khusus Tuli. Di Jember ini masih belum,” katanya.
“Jadi saya berharap Jember membuka peluang untuk teman-teman Tuli, baik di pekerjaan ataupun usaha. Saya juga berharap ada akses bagi teman tuli khususnya di pelayanan publik,” kata Nurhayati.
Rian Haryanto, salah satu Tuli, saat ini tengah berupaya membuka usaha ternak ayam. “Melamar pekerjaan susah banyak perusahaan yang enggak terima. Teman-teman coba melamar di sini enggak diterima. Ketika melamar di Surabaya bisa diterima. Sudah banyak teman-teman Tuli yang kerja di Surabaya,” katanya.
Penolakan demi penolakan ini yang membuat Tuli di Jember tidak percaya diri. “Teman-teman Tuli banyak yang enggak muncul, entah karena disembunyikan orang tuanya ataupun mereka merasa enggak percaya diri. Saya berharap ada program yang bisa mendorong teman-teman Tuli bisa muncul,” kata Rian.
Harapan serupa juga dilontarkan Untung Surotapi, Tuli yang bekerja sebagai juru parkir di Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari. “Penghasilan dari kerja tukang parkir naik turun. Cuma bisa bersabar,” kata pria yang punya dua anak yang masih berusia taman kanak-kanak.
Ketua Unit Pelayanan Teknis Bahasa Universitas Islam Jember Endah Nur Cendani berharap pemerintah bisa membantu untuk membentuk kemandirian Tuli di Jember. “Mereka itu tidak bodoh dan mereka itu kalau diajari tawaduk (menurut). Mereka disiplin,” katanya.
Endah juga berharap pelatihan untuk Tuli tidak dilaksanakan bersamaan dengan peserta yang bisa mendengar. “Bukan karena akulturasi atau pembauran, karena kemampuan yang berbeda di dalam komunikasi,” katanya.
Anggota Komisi D dari Partai Keadilan Sejahtera Achmad Dhafir Syah mengaku pernah memakai jasa Tuli sebagai asisten rumah tangga. “Mereka betul-betul di luar dugaan saya. Memang pada awal-awalnya kita mengalami kendala, tapi setelah dengan bahasa isyarat kita paham apa yang dimaui mereka,” katanya.
Dhafir memuji Tuli yang bekerja sebagai asisten rumah tangganya saat itu. “Mereka tidak bodoh. Mereka tidak kalah dari segi kebersihan dari segi ketepatan atau apapun. Mereka handal. Orang yang pernah saya pekerjakan untuk membantu rumah tangga kami ini sudah tujuh tahun bekerja di Surabaya. Pulang ke sini karena sudah bertambah usia. Beliau sekarang meninggal dan saya merasa kehilangan,” katanya.
Dinas Sosial pernah mempekerjakan Tuli yang punya kemampuan di bidang teknologi informasi. “Sekarang lolos sebagai CPNS Provinsi DKI. Memang cara kerjanya berbeda sekali. Tapi butuh kesabaran juga,” kata Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Irfan Pratama. [wir]






