Ngawi (beritajatim.com) – Tenaga kesehatan di Ngawi diusir warga saat hendak melakukan isolasi mandiri pasca terpapar Covid-19. Adalah Aria Kusuma Adjie (26) warga Desa Dero, Kecamatan Bringin, Ngawi. Dirinya terpaksa dievakuasi rekannya di PSC Ngawi karena menerima ancaman dari tetangga.
‘’Saya isolasi di Desa Gandong, Kecamatan Bringin tempat sehari-hari saya tinggal pasca ada pandemi. Tepatnya di rumah milik orang tua. Saya tidak bisa pulang ke Dero, karena ayah saya menderita penyakit jantung dan dibetes militus, sehingga saya memilih isoman di Desa Gandong ini,’’ ungkapnya saat dikonfirmasi via telepon, Minggu (11/7/2021).
Aria dinyatakan positif covid pada 9 Juli 2021. Dia selalu membangun koordinasi dengan pihak puskesmas. Hasil swab PCR sudah dilaporkan puskesmas ke pihak desa Gandong. Namun, tiada angin tiada hujan. Salah seorang tetangganya justru mengancam.
‘’Saya mendapatkan ancaman lewat telepon, kala itu saya ditelpon sebanyak tiga kali. Tetangga saya ini menuntut saya untuk keluar dari desa. Pada intinya beliau tidak terima kalau saya menjalani isoman di desa Gandong,’’ kata anggota petugas PSC Ngawi itu.
Dia lantas memberitahu koordinatornya untuk menjemputnya saat itu juga. Tepatnya pada tanggal 9 Juli pukul 17.00. Dia pun dijemput PSC Ngawi untuk dievakuasi di Agro Techno Park Ngawi. Kini dia menjalani perawatan di ATP.
‘’Gejala saya hanya batuk, sakit kepala, linu-linu, dan demam,’’ katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”covid-jatim”]
Terkait penolakan warga, dia mengharap kalau ada koordinasi yang baik antara desa dan warga. Lantaran, dirinya adalah nakes yang tiap hari memberikan pertolongan pada siapapun. Sehingga, dia mengharap kalau warga juga bisa menghargainya.
‘’Toh saya juga tidak ke mana-mana, saya harap kalau ada penolakan mohon disampaikan baik-baik. Jangan sampai ada ancaman, saya harap kejadian seperti ini tidak terulang. Baik bagi nakes atau warga biasa yang hendak menjalani isolasi mandiri,’’ katanya. [asg/but]






