Ponorogo (beritajatim.com) – Nasib buruk harus dialami oleh Dwi Santoso, bocah berumur 7 tahun itu mengalami luka patah tulang hidung dan luka di matanya, saat melihat festival layang-layang di Kelurahan Kadipaten beberapa hari yang lalu.
Berangkat dari rumah ingin melihat indahnya layang-layang di langit bumi reog, apesnya saat melihat itu, justru Dwi terkena benang dan alat penggulung benang itu mengenai wajahnya.
“Jadi pada hari Minggu (17/9) sore lalu, anak saya itu terkena benang layangan juga terkena alat penggulungnya. Karena ada layangan salah satu peserta yang tak seimbang dan pemiliknya akhirnya melepaskan alat penggulung benang, hingga akhirnya terkena wajah anak saya,” kata Sumawan, orangtia dari Dwi Santoso saat ditemui awak media di rumahnya di Desa Japan Kecamatan Babadan, Minggu (01/10/2023).
Baca Juga: Satu Tahun Tragedi Kanjuruhan, Keluarga Korban Masih Cari Keadilan
Mengetahui anaknya terluka, Sumawan yang waktu itu ada di lokasi langsung membawanya rumah sakit dengan dibantu warga lainnya. Tim medis rumah sakit pun langsung menanganinya. Dari penjelasan dokter, kata Sumawan anaknya mengalami patah tulang hidung dan luka di bagian mata kirinya. Guru menyarankan untuk ditunggu beberapa hari di rumah, hingga akhirnya dioperasi untuk bagian tulang hidung yang patah tersebut.
“Di rumah sakit itu, saya telepon perangkat desa minta panitia kegiatan untuk ikut bertanggungjawab. Saya juga telepon istri untuk membawakan kartu bpjs Dwi Santoso,” katanya.
Setelah 5 hari berlalu, Sumawan menyebutkan bahwa anaknya kembali ke rumah sakit untuk menjalani operasi terkait tulang hidungnya yang patah. Lebih dari 2 jam operasi itu berlangsung, membuat hati Sumawan dan istrinya Komariah selalu berdebar-debar.
Baca Juga: Sejarah Stadion Kanjuruhan, Sebelum dan Sesudah Tragedi Memilukan di Tahun 2022
“Ya takut, anak saya itu masuk ke ruang operasi dengan beberapa pasien gitu. Pasien lain satu jam pada keluar, nah anakku malah belum keluar,” katanya.
Dia dan istrinya langsung mengucap syukur saat anaknya keluar ruang operasi dan proses operasi berjalan sukses. Satu luka bisa diselesaikan, namun luka yang di bagian mata belum bisa disembuhkan. Dokter di Ponorogo pun telah merujuk Dwi Santoso untuk diperiksakan di rumah sakit khusus mata di Jogjakarta.
Dia saat ini berusaha meminjam uang kepada saudara maupun tetangga untuk biaya akomodasi nanti dirinya memeriksakan anaknya ke Jogjakarta. Kalau masalah biaya, dirinya tidak terlalu khawatir, sebab keluarganya mempunyai BPJS Kesehatan.
Baca Juga: Kemarau Panjang Munculkan Area Makam di Dasar Waduk Bendo Ponorogo
“Terkait luka di mata itu, pihak rumah sakit merujuk anak saya untuk diperiksakan ke rah sakit khusus mata di Jogjakarta. Ini hutang ke saudara dan tetangga untuk biaya transportasi maupun akomodasi selama di Jogjakarta tersebut,” pungkasnya. (end/ian)






