Surabaya (beritajatim.com) – Suasana kehangatan dan semangat penuh kegembiraan menyelimuti Rustic Market Gunung Sari, Surabaya, saat Konsulat Jenderal Australia menggelar festival tahunan yang kedua, “Gig on The Green”, Minggu (21/9/2025).
Acara ini bukan sekadar sebuah perayaan, melainkan juga wadah untuk menghubungkan kembali lebih dari 300 alumni dan sahabat Australia, merayakan perjalanan mereka, serta meneguhkan kembali hubungan kuat antara Indonesia dan Australia.
Tahun ini, para pengunjung disuguhkan dengan penampilan spektakuler dari Maseta, penyanyi alumni Australia yang sukses menghipnotis dengan suara merdunya. Ada pula band lokal Alderamin yang menghadirkan melodi yang penuh semangat, serta penyanyi Australia, Neptune, yang menyemarakkan acara dengan alunan musik khas negeri Kanguru.
Dipandu oleh duo pembawa acara Eva Marcella dan Diko Putranto, acara ini memancarkan energi positif yang semakin mendekatkan para peserta satu sama lain.
Gig on The Green bukan hanya tentang musik dan hiburan semata. Acara ini bertujuan untuk menyambut para alumni yang baru saja kembali dari Australia setelah menuntut ilmu di sana. Ini adalah kesempatan untuk merayakan pencapaian mereka dan mempererat hubungan dengan komunitas alumni yang lebih luas, sekaligus menjadi jembatan yang mempererat persahabatan antar dua negara.
Seperti yang disampaikan oleh Glen Askew, Konsul-Jenderal Australia di Surabaya, “Alumni Australia di Jawa Timur merupakan bagian dari komunitas yang dinamis, yang pengalamannya di Australia memberikan kontribusi terhadap hubungan antar masyarakat yang kuat antara kedua negara.”
Tak hanya seni dan prestasi, acara ini juga menyajikan beragam sajian kuliner khas Australia dan lokal yang menggoda selera. Dari BBQ Australia hingga kopi, kue-kue lezat, dan hidangan penutup, kios-kios yang dikelola oleh alumni Australia seperti Toko Kopi Tuku, Garasi Ergo, dan Farine Pastry menawarkan pengalaman kuliner yang memuaskan. Semuanya mengusung semangat berbagi dan berkolaborasi untuk menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.
“Acara seperti Gig on the Green adalah kesempatan untuk kembali menghubungkan alumni, merayakan kontribusi mereka, dan memamerkan kreativitas serta bakat mereka. Kami bangga dapat mendukung acara ini,” lanjut Glen.
Lebih dari sekadar reuni alumni, acara ini juga menjadi saksi bisu dari betapa pentingnya pendidikan dalam mempererat hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia. Berbagai cerita dan pengalaman saling berbagi di tengah kehangatan persahabatan.
Dari mereka yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia hingga yang berkuliah secara mandiri, semuanya berbaur menjadi satu dalam semangat berbagi.
Glen juga mengungkapkan bahwa kebijakan terbaru dari pemerintah Australia adalah untuk menarik lebih banyak mahasiswa Indonesia agar melanjutkan pendidikan di Australia. “Kami ingin memberi peluang lebih banyak bagi pelajar Indonesia untuk belajar di Australia, dan kami berharap acara seperti Gig on The Green dapat memotivasi mereka untuk mengejar pendidikan di luar negeri,” ujar Glen.
Namun, di balik semangat ini, Glen mengingatkan bahwa tujuan belajar di Australia harus jelas dan terencana dengan baik. “Para pelajar harus tahu apa yang ingin mereka capai, agar setelah kembali ke tanah air, mereka dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi Indonesia,” katanya.
Gig on The Green bukan hanya tentang pertemuan, tetapi tentang memperluas wawasan, mempererat persahabatan, dan merayakan kontribusi yang sudah tercipta antara dua negara yang memiliki hubungan panjang. Sebuah festival yang tidak hanya menghidupkan kenangan, tetapi juga menyalakan semangat untuk masa depan yang lebih gemilang. [uci/suf]






