Ringkasan Berita:
- Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menetapkan Ponpes Al-Falah Ploso Kediri sebagai lokasi Munas-Konbes NU 2026.
- Pengasuh Ponpes Mamba’ul Ma’arif Denanyar, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, berharap keputusan tersebut segera disepakati semua pihak.
- Munas-Konbes NU dijadwalkan berlangsung pada 20-21 Juni 2026 dan akan menjadi tahapan penting menuju Muktamar NU.
- Sejumlah pondok pesantren dan PWNU di berbagai daerah disebut siap menjadi tuan rumah Muktamar NU mendatang.
Surabaya (beritajatim.com) – Keputusan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar yang menetapkan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, sebagai lokasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) mendapat respons dari Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.
Gus Salam berharap keputusan tersebut dapat segera diterima dan disepakati seluruh pihak di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) agar tidak memunculkan polemik yang berpotensi berdampak pada dunia pesantren.
“Ya saya berharap itu segera clear dan harus disepakati oleh semua pihak yang memang harusnya menyepakati hal itu. Jangan sampai kemudian dinamika di NU yang terjadi berimbas pada pesantren,” kata Gus Salam kepada wartawan di Surabaya, Rabu (3/6/2026).
Sebelumnya, KH Miftachul Akhyar melalui surat instruksi yang ditandatangani pada Selasa (2/6/2026) menetapkan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagai lokasi penyelenggaraan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU yang akan digelar pada 20-21 Juni 2026.
Keputusan tersebut telah dikomunikasikan kepada Ketua Umum PBNU melalui pesan WhatsApp pada 1 Juni 2026.
Dalam surat itu dijelaskan bahwa Rapat Pleno PBNU pada 21 Mei 2026 telah memutuskan jadwal pelaksanaan Munas-Konbes NU pada 20-21 Juni 2026. Penetapan lokasi dilakukan setelah mempertimbangkan hasil survei terhadap sejumlah calon tempat penyelenggaraan.
“Setelah mempelajari dengan seksama laporan Tim Survei yang merekomendasikan tiga calon lokasi Munas Alim Ulama dan Konbes NU dan setelah mendapatkan pertimbangan dari aspek ruhaniah, saya memilih dan memutuskan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagai lokasi penyelenggaraan Munas Alim Ulama dan Konbes NU pada tanggal 20-21 Juni 2026,” tulis KH Miftachul Akhyar dalam surat tersebut.
Menurut Gus Salam, Munas-Konbes NU memiliki peran strategis karena menjadi forum yang akan menentukan berbagai agenda penting organisasi, termasuk terkait pelaksanaan Muktamar NU.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman sebelumnya, Muktamar NU biasanya diselenggarakan sekitar satu bulan setelah pelaksanaan Munas-Konbes.
“Muktamar akan digelar biasanya sebulan setelah pelaksanaan Munas-Konbes NU, seperti di Muktamar Lampung dulu. Pelaksanaan kapan dan lokasi Muktamar NU akan ditentukan saat Munas-Konbes NU di Ponpes Ploso Kediri itu,” ujarnya.
Selain membahas waktu pelaksanaan, forum tersebut juga diperkirakan akan menentukan lokasi Muktamar NU yang menjadi agenda besar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
Gus Salam mengungkapkan sejumlah pondok pesantren telah menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah Muktamar NU. Beberapa di antaranya berada di Jawa Timur yang selama ini dikenal sebagai basis kuat warga Nahdliyin.
Pesantren yang disebut telah menyatakan kesiapan antara lain Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Syaichona Kholil Bangkalan, Pondok Pesantren Walisongo Situbondo, Pondok Pesantren Asembagus Situbondo, Pondok Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto, dan Pondok Pesantren Buntet Cirebon.
Selain dari kalangan pesantren, sejumlah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) juga menyatakan kesiapan menjadi penyelenggara Muktamar NU.
“Untuk kesiapan lokasi Muktamar NU dari PWNU, ada PWNU NTB, Sumbar, DKI, dan Kalsel yang bersedia. Sedangkan untuk Jatim, bukan PWNU tetapi lebih ke ponpes,” pungkasnya.
Pelaksanaan Munas-Konbes NU di Ponpes Al-Falah Ploso Kediri diperkirakan menjadi momentum penting dalam menentukan arah organisasi menjelang Muktamar NU, termasuk berbagai keputusan strategis yang berkaitan dengan kepemimpinan dan masa depan Nahdlatul Ulama. [tok/beq]






