Dalam dua hari menjelang pembukaan Muktamar NU, ramai beredar opini bernarasi panas. Sebuah media online, Rabu (22/12/2021), mengunggah berita yang memuat prediksi perpecahan. Seakan kemenangan Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU nantinya tidak akan diterima atau ditolak oleh kubu Said Aqil Siradj dengan alasan adanya kecurangan dalam pemilihan. Tudingan adanya intervensi pemerintah melalui kementerian agama kepada cabang cabang NU agar tidak memilih kembali KH Said Aqil Siradj sebagai ketua umum PBNU.
Muktamar NU diramalkan akan melahirkan dua atau tiga PBNU. Pertama PBNU versi Gus Yahya, PBNU kedua, versi kubu KH Said Aqil Siradj, dan PBNU ketiga versi Indonesia Timur. Untuk mengantisipasi pecahnya NU dibuat nalar poros tengah sebagai alternatif di luar kedua kandidat yang mengemuka dengan mekanisme ketum dipilih oleh AHWA atau Majelis Tahkim saja tanpa voting.
Faktanya, penulis di lapangan melihat opini ketakutan itu hanyalah mitos yang mungkin sengaja diciptakan pihak tertentu untuk menggiring pemenangan satu calon secara non prosedural. Ada pihak mencoba berspekulasi mengambil alih kewenangan muktamirin secara instant dengan dalih mencegah money politic atau deadlock antar dua pendukung kandidat yang sudah menguat.
Penulis yang berada di lokasi muktamar sejak kemarin dan mengikuti beberapa pertemuan. Melihat fakta bahwa suasana lapangan masih kondusif. Opini muktamar sedemikian gawat adalah fiktif. Kecuali jika ada pihak yang sengaja mau menciptakan suasana kacau dan memaksa membuat deadlock.
Sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, penulis telah mengenal sebagian besar ketua PWNU se Indonesia dan telah beberapa bertemu untuk berkordinasi perihal muktamar dan suksesi pucuk kepemimpinan PBNU. Mereka pada umumnya para tokoh agama berpendidikan tinggi yang menjadi pemimpin pesantren atau rektor perguruan tinggi dan mempunyai integritas.
Dari beberapa kali pertemuan kordinasi, dapat penulis simpulkan, bahwa arus desakan regenerasi memang sudah sangat kuat. Dua periode kepemimpinan KH Said Agil Siraj dirasakan sudah cukup. Disepakati perlu ada pergantian pucuk pimpinan PBNU.
Sosok yang diharapkan tampil adalah Gus Yahya. Dia digadang mampu memajukan Jam’iyyah NU ke depan dan terus memperkuat tiga ukhuwah NU, yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia).
Penulis juga mengikuti pertemuan di gedung Graha Wangsa, Bandarlampung, Selasa (21/12) tadi malam. Penulis melihat bahwa dukungan untuk Gus Yahya memang sangat nyata. Sebanyak 447 Pengurus Cabang NU (PCNU) dan Pengurus Wilayah NU (PWNU) berkumpul dan berikrar mendukung calon Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dalam Muktamar NU ke-34 di Lampung pada 22-23 Desember 2021.
[berita-terkait number=”4″ tag=”muktamar-nu”]
Ada tiga poin ikrar yang dibacakan dalam pertemuan tadi malam, yakni mendukung penyelenggaraan Muktamar ke-34 NU berjalan damai, sejuk dan bermartabat serta mendukung penyelenggaraan muktamar sesuai dengan protokol kesehatan. Terakhir, mendukung KH Yahya Cholil Staquf menjadi Ketua Umum PBNU Masa Khidmat 2021-2026.
Melihat fakta riil di lapangan saat ini, penulis yakin muktamar akan berlangsung aman dan lancar meskipun mungkin sedikit akan ada debat dalam pleno pertama tentang keabsahan sebagian peserta, batas minimal bacalon, mekanisme tabulasi calon AHWA, dan penentuan lokasi pengambilan suara.
Dari hasil pantauan sampai rapat siang hari ini, Rabu (22/12), hampir dapat dipastikan nama Anggota AHWA akan sesuai usulan yang beredar. Selanjutnya pasangan KH Miftahul Akhyar dengan Gus Yahya Khalil Staquf akan melenggang mulus memimpin PBNU masa khidmah 2021-2025.
Selamat datang era kepemimpinan baru PBNU..
Lampung, 22 Desember 2021






