Jember (beritajatim.com) – Ada dua tokoh yang menjadi simbol kekuatan basis massa Nahdlatul Ulama, yakni Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
“Dua figur asal Jawa Timur ini akan jadi penentu dalam mengusung dan memenangkan calon presiden,” kata Moch. Eksan, dosen mata kuliah Ahlussunnah Waljamaan (Aswaja) Universitas PGRI Argopuro, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (27/4/2023).
Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Gajah Mada dan Universitas Airlangga itu identik dengan basis massa nahdliyin di Jatim yang menjadi lumbung suara NU. “Siapapun calon presidennya akan membutuhkan insentif elektoral dari Cak Imin atau Bu Khofifah,” kata Eksan.
Muhaimin dan Khofifah saat ini berpotensi menjadi calon wakil presiden. Menurut Eksan, posisi wapres strategis dalam membantu presiden dalam melakukan kewajibannya.
“Wapres menggantikan presiden sampai habis waktunya jika presiden meninggal dunia, berhenti atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatan yang telah ditentukan,” kata Eksan.
Wapres juga memperhatikan secara khusus, menampung masalah yang perlu penanganan menyangkut bidang tugas kesejahteraan rakyat. “Wapres juga mengawasi operasional pembangunan, dengan bantuan departemen, lembaga non departemen, dalam hal ini inspektur jenderal dari departemen yang bersangkutan atau deputi pengawasan dari lembaga non departemen yang bersangkutan,” kata Eksan.
Target jadi calon wakil presiden lebih realistis, karena posisi calon presiden masih seputar tiga nama besar, Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan.
Hasil survei Indikator Politik Indonesia pada 8-13 April 2023 menempatkan Prabowo di posisi puncak dengan tingkat elektabilitas
22,2 persen, Ganjar Pranowo 19,8 persen, dan Anies Rasyid Baswedan 15,9 persen.
Sementara Muhaimin Iskandar 0,5 persen dan Khofifah Indar parawansa 0,4 persen. Mereka masih kalah dengan Mahfud MD (2,1 persen) dan Erick Thohir (2 persen). [Wir]






