Magetan (beritajatim.com) – Pengelola destinasi wisata Mojosemi Forest Park menyiapkan transformasi besar pada 2026 dengan mengusung konsep staycation berbasis alam, budaya, dan privasi. Langkah ini diharapkan mampu mengembalikan Mojosemi sebagai salah satu tren wisata unggulan di kawasan lereng Gunung Lawu.
Direktur Mojosemi Forest Park, Rudi Hariyanto, menyampaikan bahwa pengembangan konsep baru tersebut berangkat dari evaluasi pola pengelolaan yang telah berjalan hampir satu dekade.
“Tren wisata terus berubah. Kami berharap pada 2026 Mojosemi kembali menjadi destinasi yang diminati dengan konsep baru yang lebih relevan,” ujar Rudi, Sabtu (3/1/2025).
Ia menjelaskan, selama ini Mojosemi dikelola melalui kerja sama dengan Perhutani dan kini memasuki fase alih kelola bersama Palawi. Ke depan, pengelola berencana menggeser fokus dari wisata kunjungan harian menuju wisata tinggal (staycation) yang menawarkan pengalaman menyatu dengan alam.
Konsep baru tersebut akan menghadirkan berbagai aktivitas berbasis budaya, kegiatan outdoor ramah lingkungan, hingga fasilitas berkonsep private experience bagi wisatawan. Menurut Rudi, pendekatan ini dipilih karena potensi kawasan Mojosemi belum tergarap secara maksimal.
“Luas lahan yang kami kelola saat ini mencapai 36 hektare. Masih banyak area dengan panorama luar biasa yang belum tereksplor, termasuk satu titik dengan view langsung menghadap Telaga Sarangan,” jelasnya.
Terkait rencana pengembangan ke depan, Mojosemi juga bersiap menyesuaikan diri dengan wacana pembentukan Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Lawu yang direncanakan mencakup lebih dari 10 ribu hektare kawasan hutan.
“Kami sudah mendengar rencana Tahura tersebut. Kemungkinan besar Mojosemi akan masuk dalam konsep itu, tinggal menunggu arah kebijakan alih kelolanya,” kata Rudi.
Ia menambahkan, Mojosemi memiliki nilai historis kuat dalam aspek konservasi. Sejak era kolonial Belanda, kawasan ini dikenal sebagai lokasi tanaman sumber benih yang direncanakan untuk kebun raya.
“Harapannya, konsep wisata yang dikembangkan nanti bisa selaras dengan konservasi. Arahnya jelas, antara staycation dan konservasi, dengan menghadirkan nuansa baru tanpa meninggalkan nilai sejarah alamnya,” pungkasnya.
Dengan strategi tersebut, Mojosemi Forest Park menargetkan dapat tampil sebagai destinasi wisata alam berkelanjutan yang adaptif terhadap tren, sekaligus mendukung pelestarian kawasan Gunung Lawu. [kun]






