Ponorogo (beritajatim.com) – Polres Ponorogo melakukan autopsi terhadap jenazah Adi Saputra, pelajar asal Dukuh Gupit, Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon, yang ditemukan meninggal dunia di dalam sumur tua, Senin (9/2/2026) kemarin. Korban sebelumnya dilaporkan hilang sejak Jumat (7/2/2026) lalu. Proses autopsi dilakukan pada Senin malam oleh Tim Dokter Forensik RS Bhayangkara Kediri untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah dan objektif.
Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo mengatakan, pihaknya telah mendatangkan tim laboratorium forensik. Tim itu dari RS Bhayangkara Kediri, yang dikerjakan guna mendalami penyebab pasti kematian korban.
“Untuk perkembangan penyelidikan kita sudah mendatangkan tim labfor dari Kediri untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab meninggalnya korban,” kata AKBP Andin, Selasa (10/2/2026).
Dia menegaskan, penyidik masih menunggu hasil pemeriksaan forensik. Hasil pemeriksaan penting diketahui untuk menjawab sejumlah pertanyaan krusial. Tentu, terkait dengan penyebab kematian korban.
“Apakah masuk ke sumur sudah dalam keadaan mati atau masih dalam keadaan bernyawa. Itu yang kita gali. Dan hasilnya kita tunggu dari tim labfor,” tegasnya.
Selain itu, polisi juga mendalami kemungkinan faktor yang membuat korban masuk ke dalam sumur, yang sudah lama tidak digunakan tersebut. Andin berharap, kejadian itu tidak mengarah ke suatu tindak pidana.
“Termasuk nanti faktor apa yang menyebabkan yang bersangkutan masuk ke dalam sumur itu, masih kita gali. Semoga saja nanti tidak ada suatu perbuatan tindak pidana yang terjadi di situ. Jadi ya memang murni dari yang bersangkutan,” jelas Kapolres.
AKBP Andin menambahkan, pemeriksaan tidak hanya bertumpu pada hasil otopsi. Keterangan saksi-saksi, termasuk dari pihak keluarga dan sekolah, juga sedang dikumpulkan untuk memperkuat analisa penyidik.
“Ya dari keluarga, pihak sekolah juga kita mintai keterangan. Intinya yang berkaitan dengan korban itu kita gali. Biar hasilnya objektif untuk menentukan apakah ini ada unsur melawan perbuatan hukum atau tidak,” katanya.
Penyidik juga masih berupaya membuka telepon seluler milik korban untuk melengkapi rangkaian penyelidikan. Sebelumnya, handphone korban ditemukan saat korban dievakuasi dari dalam sumur.
“Untuk HP korban masih kita lakukan treatment apabila bisa kita buka. Hasilnya akan kita sampaikan di teman-teman media,” ungkapnya.
Sumur tempat ditemukannya jasad korban diketahui berada sekitar 100 meter di sebelah utara rumahnya. Kedalamannya mencapai kurang lebih 40 meter dan sudah tidak difungsikan lagi oleh warga.
“Sumur itu sebenarnya sudah tidak dipakai. Dan lumayan dalam, sekitar 40 meter. Jarak rumah dari korban cuma 100 meter,” terang Kapolres.
Menurut keterangan saksi, pada Sabtu (8/2/2026) sumur tersebut dalam kondisi terbuka. Namun saat itu belum ditemukan tanda-tanda keberadaan korban di dalamnya.
“Posisi kemarin dari saksi yang kita mintai keterangan, sumur hari sabtu kondisi terbuka. Sabtu itu belum ada tanda-tanda di dalam itu. Makanya ditutup kembali,” ungkapnya.
Penemuan jasad Adi bermula saat warga melakukan tradisi buk-buk teng untuk mencari korban yang tak kunjung pulang. Warga mencium bau menyengat dari arah sumur tua tersebut dan kemudian memeriksa bagian dalam menggunakan senter. Saat itulah korban terlihat dalam posisi mengapung.
Evakuasi dilakukan aparat gabungan dengan koordinasi pemerintah desa dan BPBD Ponorogo. Karena kedalaman sumur yang mencapai puluhan meter, petugas memutuskan menunggu bantuan Basarnas dari Kabupaten Trenggalek demi keselamatan proses pengangkatan jenazah.
Sebelumnya, Adi dilaporkan hilang setelah terakhir terlihat meninggalkan rumah sekitar pukul 11.00 WIB usai pulang sekolah. Ia sempat berganti pakaian dan pergi tanpa pamit serta tanpa alas kaki. Setelah tiga hari pencarian, pelajar 14 tahun itu akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.(end/but]






