Ponorogo (beritajatim.com) – Dari 461 jemaah haji asal Ponorogo yang berangkat ke Tanah Suci tahun ini, nama Misringah mencuri perhatian. Dia menjadi haji tertua di Bumi Reog. Selain itu, juga karena semangat luar biasa dari seorang perempuan sepuh asal Desa Gandukepuh, Kecamatan Sukorejo, yang di usianya mencapai 90 tahun, tetap teguh menunaikan panggilan-Nya.
Misringah bukan lagi bisa berdiri tegak. Tubuhnya sudah membungkuk, langkahnya lamban, namun tekadnya untuk menuju Baitullah tetap tinggi. Tak ayal, ketika pamitan haji di Pendopo Agung Pemkab Ponorogo beberapa waktu lalu, banyak orang menciumi tangan beliau, tak terkecuali Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko. Di usia senjanya, dirinya melangkah ke Baitullah didampingi oleh anak bungsunya, Mujiati untuk menyempurnakan rukun Islam kelima.
Yang mengejutkan lagi, Misringah baru mendaftarkan diri untuk berhaji pada tahun 2019. Tak seperti kebanyakan jemaah lain yang menunggu hingga belasan bahkan puluhan tahun, Dia hanya perlu waktu 6 tahun untuk mendapatkan giliran. Sebuah takdir yang disambut dengan syukur oleh keluarga besar Misringah.
“Jadi ibuk baru daftar haji tahun 2019, alhamdulillah tahun ini berangkat. Itu pun atas inisiatif anak-anak setelah beliau menyatakan keinginan berhaji saat acara selamatan,” kata Mujiati, 49 tahun, saat ditemui di rumah mereka, Selasa (6/5/2025).
Momen itu terjadi secara sederhana, seusai selamatan, anak-anak berkumpul dan menanyakan apakah Misringah ingin naik haji. Jawaban “iya” yang tulus keluar dari bibir perempuan sepuh itu seolah menjadi isyarat bagi keluarga untuk segera bertindak.
Tak perlu mencari ke luar. Ongkos haji ternyata telah lama ditabung oleh Misringah dalam bentuk perhiasan emas. Ada cincin, peniti, hingga gelang yang jika ditimbang, total beratnya mencapai hampir 50 gram. Emas-emas itu bukan warisan, bukan pula hadiah. Itu adalah hasil kerja keras Misringah puluhan tahun.
Mujiati mengisahkan, sejak tahun 1960-an ibunya telah menabung dari hasil menjadi buruh tani. Selain itu, Misringah juga berdagang kecil-kecilan, mulai menjual beras, kedelai, bahkan mengumpulkan asam Jawa yang jatuh dari pohon di pekarangan rumah untuk dijual.
“Setiap ada uang sisa, ibuk belikan emas. Jadi tabungannya memang bukan di bank, tapi dalam bentuk perhiasan,” ungkap Mujiati.
“Waktu kecil kami nggak tahu, baru tahu setelah kami dewasa dan ibuk bilang punya simpanan,”.
Kini, Misringah bukan sekadar jemaah haji tertua dari Ponorogo. Dia pun menjadi simbol ketekunan dan harapan, bahwa perjalanan menuju Tanah Suci bisa ditempuh dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Misringah memiliki 7 anak, 25 cucu, 17 buyut, dan bahkan satu canggah. Keberangkatannya ke Tanah Suci bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tapi juga keluarga besar dan warga desanya. [end/aje]






