Bangkalan (beritajatim.com) – Tidak semua warga yang ada di Kabupaten Bangkalan, Madura. Bisa menikmati fasilitas infrastruktur yang layak sebagai penunjang aktivitas.
Terbukti, sejumlah warga yang tinggal di Dusun Panteh, Desa Karangpanasan, Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan harus merangkak melewati jembatan yang terbuat dari bambu untuk menyebrang ke Desa lain.
Yang lebih memprihatinkan lagi, anak-anak di Desa tersebut juga melakukan hal yang sama, yakni merangkak di atas bambu untuk melintasi sungai menuju sekolah. Sehingga, jika jatuh ke sungai bisa mencelakai bahkan mengancam nyawa.
H Rosid Tokoh Masyakat (Tomas) setempat mengatakan, jika jembatan yang terbuat dari bambu tersebut telah berusia 40 tahun. Sebab, sejak ia masa kanak-kanak hingga saat ini belum ada perubahan.
“Sejak saya masih kecil ya jembatan itu tidak ada perubahan, tetap terbuat dari bambu,” ujarnya, Senin (12/12/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”bangkalan”]
H. Rosid menjelaskan, jembatan bambu tersebut sepanjang 10 meter dan lebar 2,5 meter, dan beberapa waktu lalu memakan korban seorang anak terjatuh ke sungai. Tetapi beruntung nyawanya bisa diselamatkan.
“Yang jatuh yaitu anak yang mau berangkat ngaji, beruntung masih selamat, dengan kondisi ini saya berharap sekali kepada pemerintah untuk melakukan perbaikan, jangan sampai jembatan itu memakan korban nyawan,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Desa Karangpanasan Hasim mengaku sudah berupaya untuk melakukan perbaikan tetapi terbentur minimnya anggaran. Kemudian, tahun 2020 lalu juga diajukan kepada pemerintah agar dibangun jembatan gantung. Tetapi lagi-lagi gagal karena saat itu semua anggaran direfocusing dampak dari mewabahnya Corona Virus Disease 2019 (Covid 19).
“Pihak desa sudah berupaya melakukan perbaikan hanya saja terbentur anggaran, jika dipaksakan mengunakan Dana Desa (DD) juga akan mengorbankan kegiatan lainya, disamping itu dananya tidak akan cukup. Tetapi kita tetap berusaha,” tandasnya.[sar/ted]






