Surabaya (beritajatim.com) – Keterbatasan bahan ajar dan kurangnya guru terlatih dalam pengajaran Al-Qur’an bagi siswa rungu mendorong Baznas RI dan SLB Tunas Mulya Surabaya menggelar Training of Trainer (ToT) Pengajar Al-Qur’an Isyarat 2025.
Pelatihan dua hari ini digelar di Zoom Hotel Jemursari dan diikuti 30 guru SLB dari berbagai sekolah di Surabaya.
Kepala SLB Tunas Mulya, Nurul Muchid menyebut kebutuhan guru terampil di bidang Al-Qur’an Isyarat semakin mendesak.
“Ini bukan sekadar pelatihan, tetapi upaya membuka akses yang selama ini terbatas. Siswa rungu berhak mendapatkan pembelajaran Al-Qur’an yang setara,” ujarnya, Senin (1/12/2025).
Baznas RI mengirim perwakilan, Bebby Aurelia Putri, untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Kehadiran Baznas menegaskan minimnya fasilitas pembelajaran khusus bagi penyandang disabilitas rungu masih menjadi masalah yang belum terselesaikan di banyak sekolah.
Materi inti disampaikan Ida Zulfiyah dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI. Ia menilai pengajaran Al-Qur’an berbasis isyarat belum memiliki standar yang merata.
Ida menjelaskan prinsip visual-spasial, gestur huruf hijaiyah, hingga pendekatan multisensori yang dibutuhkan di kelas rungu.
“Bahan ajar masih terbatas, tenaga pengajar juga belum banyak. Karena itu regenerasi dan pengimbasan kompetensi harus dipercepat,” katanya.
Tiga fasilitator alumni ToT 2024 kemudian memandu sesi teknis, mulai praktik bahasa isyarat surah pendek, microteaching, teknik pengajaran, evaluasi pembelajaran, hingga penyusunan rencana tindak lanjut di sekolah masing-masing.
Pelatihan ditutup dengan refleksi peserta. Harapannya program ini dapat menjawab kekurangan tenaga pengajar terlatih dan memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an bagi siswa rungu di Surabaya. [ipl/but]






