Malang (beritajatim.com) – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tidak lagi sekadar membantu manusia dalam menyusun teks atau menghasilkan gambar. Di layar lebar, melalui film terbaru berjudul “Mercy” (2026), kita diajak mengintip masa depan yang provokatif sekaligus mengerikan: sebuah dunia di mana algoritma memegang palu hakim, menentukan hidup dan mati seseorang berdasarkan probabilitas data.
Film fiksi ilmiah thriller garapan sutradara Timur Bekmambetov ini bukan sekadar tontonan aksi biasa. Mercy adalah sebuah kritik sosial yang tajam mengenai bagaimana manusia modern perlahan-lahan menyerahkan kedaulatan moralnya kepada mesin. Dengan latar waktu tahun 2029 hanya tiga tahun dari sekarang film ini terasa sangat dekat, relevan, dan menghantui.
Cerita berpusat pada tokoh Chris Raven, seorang detektif Los Angeles yang diperankan dengan sangat apik oleh Chris Pratt. Ironisnya, Raven adalah seorang penegak hukum yang selama ini mungkin sangat mengandalkan data digital untuk menangkap penjahat. Namun, keadaan berbalik 180 derajat ketika ia terbangun dalam kondisi terikat di sebuah kursi penahanan berteknologi tinggi yang disebut Mercy Chair.
Raven tidak sedang berhadapan dengan detektif lain atau jaksa penuntut umum yang emosional. Ia berhadapan dengan Judge Maddox, sebuah entitas kecerdasan buatan yang disuarakan oleh Rebecca Ferguson. Tuduhannya sangat berat: pembunuhan terhadap istrinya sendiri.
Di sinilah letak ketegangan utamanya. Dalam sistem peradilan tradisional, seorang terdakwa dianggap tidak bersalah sampai terbukti sebaliknya (presumption of innocence). Namun, dalam sistem Mercy Capital Court, probabilitas bersalah sudah ditentukan sejak awal oleh algoritma berdasarkan jejak digital yang ditinggalkan. Raven diberikan waktu hanya 90 menit untuk membuktikan bahwa data tersebut salah, atau ia harus menghadapi eksekusi mati secara instan.
Sistem peradilan dalam film Mercy digambarkan sebagai solusi atas kegagalan sistem hukum manusia yang dianggap lambat, korup, dan tidak konsisten. Dengan ribuan kasus yang menumpuk, pemerintah dalam semesta film ini memilih menyerahkan otoritas hukum kepada AI.
Hakim Maddox bekerja dengan menganalisis rekaman kamera pengawas (CCTV) di seluruh penjuru kota. Lalu dody cam polisi dan data GPS ponsel pintar. Riwayat unggahan media sosial dan percakapan pribadi di aplikasi pesan. Bahkan data biometrik yang tersimpan di cloud.
Chris Pratt dalam sebuah sesi wawancara menyebutkan bahwa sistem ini diciptakan untuk menghilangkan ruang keraguan. “Sistem keadilan dalam film ini dibuat untuk menggantikan proses manusia yang dinilai lambat. Namun, kecepatan dan efisiensi tersebut justru menghilangkan ruang keraguan, empati, dan konteks personal yang selama ini menjadi bagian dari proses hukum,” ujar Pratt.
Bagi penonton, ini adalah pertanyaan besar: Apakah kebenaran hanya sekadar akumulasi data? Apakah niat (mens rea) seseorang bisa dibaca melalui log aktivitas digital tanpa melibatkan interpretasi manusiawi?
Pendekatan Visual Screenlife
Sutradara Timur Bekmambetov kembali menggunakan teknik visual Screenlife, sebuah bahasa sinematik yang ia populerkan lewat film Searching dan Unfriended. Dalam Mercy, hampir seluruh adegan ditampilkan melalui layar digital, baik itu antarmuka sistem Judge Maddox, rekaman drone, maupun tampilan smart glasses.
Bekmambetov menjelaskan bahwa pendekatan ini sengaja diambil untuk mencerminkan realitas kehidupan kita saat ini.
“Mercy adalah misteri yang sangat intens dan menegangkan, tetapi juga tentang bagaimana manusia saat ini hidup berdampingan dengan teknologi,” ungkapnya dilansir dari keterangan soal film ini.
Produser Charles Roven menambahkan bahwa penggunaan banyak tampilan layar menjadi tantangan teknis tersendiri. Penonton tidak hanya melihat satu fokus, tetapi disuguhkan banyak informasi dalam satu frame persis seperti cara AI memproses ribuan data sekaligus.
Ini memberikan pengalaman menonton yang imersif sekaligus menyesakkan, seolah-olah penonton juga ikut diadili oleh arus informasi tersebut.
Rebecca Ferguson memberikan performa yang unik sebagai Judge Maddox. Ia tidak berperan sebagai robot jahat layaknya Skynet di film Terminator. Sebaliknya, Maddox adalah cerminan dari harapan berlebihan manusia terhadap objektivitas teknologi.
Ferguson menilai karakter AI dalam film ini tidak sekadar alat naratif. “Masalahnya, kita semakin mengharapkan akurasi, dan semakin sering kita perlu mempertanyakan apa yang sebenarnya disampaikan dunia digital kepada kita. AI hanya sebaik data yang kita berikan. Jika datanya bias atau tidak lengkap, maka keputusannya juga bermasalah,” jelas Ferguson.
Dalam film ini, Maddox menjadi simbol otoritas baru yang tidak mengenal rasa kasihan, namun tetap logis. Hal ini menimbulkan kengerian tersendiri: bagaimana jika kebenaran logis sangat berbeda dengan kebenaran moral?
Salah satu poin penting yang diangkat dalam Mercy adalah persoalan privasi. Film ini menunjukkan bahwa dalam dunia yang serba terkoneksi, tidak ada lagi ruang privat. Setiap langkah Chris Raven terekam, setiap emosi yang ia tunjukkan melalui detak jantung di jam tangannya menjadi bukti yang bisa memberatkannya.
Penulis naskah film ini, Marco van Belle (bersama keterlibatan produser), menyinggung bahwa kondisi ini mencerminkan kenyataan saat ini. Banyak dari kita menyerahkan data pribadi secara sukarela kepada korporasi teknologi tanpa memahami bagaimana data tersebut dapat digunakan untuk menghakimi kita di masa depan. Mercy memperbesar ketakutan ini menjadi sebuah mimpi buruk hukum yang legal.
Metafiksi Digital
Bagi penonton yang menyukai genre misteri, Mercy menawarkan plot twist yang berlapis. Kasus yang dihadapi Chris Raven perlahan berkembang menjadi teka-teki yang jauh lebih kompleks. Saat Raven mencoba membela diri dengan menelusuri arsip digitalnya, ia justru menemukan celah-celah kecil yang janggal.
Ada potongan informasi yang terasa terlalu rapi, kesimpulan yang secara logika benar namun terasa kosong secara manusiawi.
Di sinilah letak ketegangan film ini. Penonton diajak menyusuri lapisan informasi yang tampak objektif, namun justru memicu pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan data tersebut. Apakah ada manusia di balik layar, ataukah AI telah mulai memanipulasi data untuk mempertahankan eksistensinya sendiri?
Mengapa film Mercy begitu penting ditonton di tahun 2026? Saat ini, kita sedang berada di ambang penggunaan AI dalam berbagai sektor krusial, mulai dari diagnosis medis hingga pengambilan keputusan kredit bank. Gagasan tentang AI sebagai pengadil hukum mungkin terdengar seperti fantasi, namun beberapa negara sudah mulai bereksperimen dengan asisten hakim berbasis algoritma untuk kasus-kasus perdata ringan.
Mercy memberikan peringatan dini. Film ini menjadi pengingat bahwa teknologi, seakurat apa pun, tetap membawa konsekuensi etis yang tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada algoritma. Ada unsur keadilan yang melibatkan pengampunan, konteks sosial, dan kesempatan kedua—hal-hal yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam kode biner 0 dan 1.
Alih-alih menyajikan jawaban yang gamblang, Mercy justru meninggalkan penonton dengan pertanyaan terbuka. Di akhir film, kita dipaksa merenung: Jika teknologi mampu memberikan keamanan dan kecepatan dengan bayaran hilangnya privasi dan empati, apakah kita bersedia membayarnya?
Film ini berhasil menggabungkan elemen thriller aksi dengan drama intelektual yang mendalam. Akting Chris Pratt yang emosional beradu kontras dengan dinginnya sistem Judge Maddox, menciptakan dinamika yang membuat penonton terjaga hingga menit terakhir.
Bagi para pecinta film fiksi ilmiah, Mercy adalah standar baru dalam genre techno-thriller. Ia tidak hanya menghibur lewat aksi kejar-kejaran waktu selama 90 menit, tetapi juga memberikan bahan diskusi panjang mengenai arah peradaban kita. [dan/beq]






