Bojonegoro (beritajatim.com) – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno dan Wakil Menteri BUMN 1 Pahala Mansury melakukan kunjungan kerja ke lokasi Proyek Pengembangan Gas Lapangan Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Senin (29/8/2022).
Kunjungan ini untuk melihat perkembangan dari proyek yang akan menjadi salah satu penghasil gas terbesar di Indonesia. Mensesneg Pratikno menerangkan bahwa dalam skala global, saat ini terjadi kebutuhan energi yang cukup besar. Salah satunya karena dampak dari perang ukraina dan lainnya.
Kebutuhan gas domestik juga meningkat luar biasa sejalan dengan kebijakan Presiden untuk industrialisasi dan hilirisasi. “Itu artinya kita harus memproduksi gas secara besar, terlebih gas memiliki emisi yang lebih rendah dibandingkan energi fosil lainnya,” ujarnya.
Pratikno menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam proyek pengembangan gas JTB, yakni Pertamina dan anak perusahaannya, BUMN, dan SKK Migas yang telah bekerja keras untuk mempercepat produksi. “Ini akan mendukung kebijakan nasional kita dalam suplai energi yang emisinya lebih rendah,” tambahnya.
Sementara, Wamen BUMN 1 Pahala Mansury mengharapkan Gas on Stream (GoS) dari JTB nanti akan dilaksanakan 20 persen dari total produksi. Kemudian Pahala juga mengharapkan fasilitas yang lain dapat selesai sehingga bisa naik di angka 40 persen dan selanjutnya di November nanti bisa mencapai angka penuh 100 persen.
“Kita dari Kementerian BUMN tentunya selalu mengawal semua pihak yang terlibat, termasuk dari internal BUMN sendiri seperti PT Rekayasa Industri (Rekind) yang merupakan EPC di proyek untuk bisa berkoordinasi dengan baik bersama para vendor lain dan memastikan proses GoS bisa berjalan dengan lancar dan aman,” ungkapnya.
Menurutnya, proyek JTB juga berperan strategis dalam sektor pangan seperti penyediaan pupuk. Selain itu, lanjut Pahala, perkembangan kawasan industri di jalur utara Pulau Jawa cukup signifikan. Terlebih, pipa Gresik – Semarang (Gresem) juga sudah siap. “Project JTB ini sangat strategis bagi pengembangan kawasan industri di Pulau Jawa ini,” ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bojonegoro”]
Rencananya Proyek JTB yang dioperatori oleh PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12, Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina ini dalam waktu dekat akan melakukan Gas on Stream (GoS) yang merupakan tonggak penting menuju fase produksi bagi JTB yang juga merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) sektor energi.
Pada kunjungan kali ini, Mensesneg dan Wamen BUMN 1 juga menyempatkan untuk menyerahkan secara simbolis beberapa program pengembangan masyarakat (PPM) yang telah dilaksanakan oleh PEPC JTB. Hadir pada kesempatan ini perwakilan dari Ademos, IDFoS dan Paratazkia yang menerima program sebagai mitra pelaksana maupun mitra pendamping.
Proyek JTB selama pengerjaannya secara keseluruhan telah menyerap hampir 5 ribu tenaga kerja lokal. Puncak tertinggi penyerapan tersebut terjadi pada bulan April 2021 lalu. Kini, seiring dengan menurunnya jumlah pekerjaan di proyek, secara bertahap kebutuhan naker juga mulai berkurang.
Proyek gas JTB ini akan memproduksi sales gas sebesar 192 MMSCFD yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan gas di kawasan Jawa Timur maupun Jawa Tengah. Gas JTB ini juga sebagai salah satu pengejawantahan strategi dari Pertamina untuk menunjang program transisi energi dalam bentuk komersialisasi gas sebagai energi baru.
Mensesneg dan Wamen 1 BUMN mengikuti paparan terkait status proyek yang saat ini tengah dalam proses gas-in. Paparan materi disampaikan oleh Pjs General Manager Gas Project JTB Ruby Mulyawan. Tak hanya memberikan pemaparan terkait teknis proyek, namun Ruby juga menyampaikan berbagai program pengembangan masyarakat yang telah dilaksanakan oleh PEPC di sekitar Bojonegoro.
Selain itu, disampaikan pula status HSSE performance hingga Agustus 2022 di mana JTB telah mencatatkan jam kerja selamat lebih dari 58 juta jam. [lus/ted]






