Kediri (beritajatim.com) – Seorang pengemis di Kabupaten Kediri menangis dan meminta belas kasihan dari petugas gabungan yang merazianya, pada Selasa (11/7/2023) siang.
Pengemis wanita itu menolak diangkut oleh petugas Satpol PP Kabupaten Kediri bersama Dinas Sosial, TNI dan Polri yang menggelar razia di jalan raya kawasan Banyakan, Kabupaten Kediri.
Perempuan paruh baya yang mengaku berasal dari Desa Padangan, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri itu ogah dibawa oleh petugas dan memilih untuk pulang sendiri.
Baca Juga : Satpol PP Gresik Antisipasi Masuknya Gelandangan dan Pengemis Baru
“Kulo mboten gadah bojo. Kulo mboten, kulo tak mantuk mawon. Dalem kulo Padangan, saestu kulo tak mantuk mawon,” ucap pengemis itu sambil merengek kepada petugas yang mengerubunginya.
Meskipun menolak dan meronta, tetapi petugas tetap mengangkutnya. Sempat dibujuk oleh petugas akan digendong, akhirnya pengemis berbadan gemuk itu digiring naik ke mobil petugas.
Ada dua titik lokasi razia yang disasar petugas gabungan kali ini. Berada di kawasan Banyakan, Kabupaten Kediri. Dari razia itu, petugas menemukan tiga orang gelandangan dan pengemis.
Baca Juga : Anak Jalanan dan Pengemis Marak di Bangkalan
Ketiga gepeng tersebut terdiri dari satu orang lansia dan pasangan suami istri. Mereka juga membawa seorang anak balita yang masih berusia 2 tahun.
Menurut Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial (Resos) Dinas Sosial Kabupaten Kediri, Sri Pancawati, razia ini untuk menertibkan pada penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMSK) di jalanan.
“Kita assasment dulu, baru bisa kita tindak lanjuti. Apakah akan dikembalikan atau kita masukkan ke panti rehabilitasi,” ungkap Panca.
Joko Wiyono, Fungsional Pekerja Sosial Ahli Muda, Dinas Sosial Kabupaten Kediri mengaku, sudah menjadi alasan klasik bagi para gepeng dan anjal yang meminta-minta dengan dalih kebutuhan ekonomi.
Baca Juga : Curi Tas Jamaah di Masjid Al Akbar, Pengemis Ini Dihukum 6 Bulan
Padahal sejatinya, setiap warga Kabupaten Kediri yang berada pada garis kemiskinan sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah, baik berupa BPNT, PKH maupun BLT.
“Padahal banyak bantuan dari Dinsos Kabupaten Kediri untuk warga yang kurang mampu. Tetapi orang-orang ini (yang terjaring razia) tidak mungkin baru,” terang Joko.
Mengemis, kata Joko, lebih dipilih mereka karena cara mendapatkan uang dalam jumlah banyak, tanpa bersusah payah maupun keluar modal. Bayangkan, mereka bisa memperoleh penghasilan hingga Rp200 ribu sehari.
Baca Juga : Pengemis di Kota Gresik Mulai Marak
“Sehari bisa mencapai Rp200 ribu, bahkan lebih. Baik anjal maupun gelandangan pengemis. Paling sepi penghasilannya Rp150 ribu,” terang Joko yang sudah lama berkecimpung dalam masalah tersebut. [nm/ted]






