Surabaya (beritajatim.com) – Pernahkah Anda membayangkan Iran sebagai negara terbelakang dengan penduduk yang konservatif? Persepsi ini, yang sering digambarkan di media, dibantah oleh Henry Vienayoko dalam bukunya “Khodahafez Tehran: Sebuah Antologi Kenangan”.
Buku ini membawa kita pada perjalanan nyata Henry menjelajahi Iran, membongkar kesalahpahaman dan membuka mata kita terhadap sisi lain Persia yang jarang diketahui.
Lebih dari Sekadar Konflik
Iran, negeri yang kaya akan sejarah dan budaya, sering diidentikkan dengan konflik dan pergolakan. Namun, di balik citra negatif tersebut, terdapat cerita tentang peradaban maju dengan keramahan penduduknya.
Henry menceritakan perbincangannya dengan petugas bandara yang mencerminkan persepsi umum tentang Iran. Pertanyaan “Bukannya itu daerah konflik ya, pak?” menunjukkan bagaimana media telah membentuk pandangan banyak orang.
Ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti, Khodahafez Tehran membongkar persepsi tentang Tehran sebagai sebuah ibukota terbelakang dengan penduduk yang konservatif. Persepsi negatif seperti ini tentu bukanlah sesuatu yang netral, ia dibangun oleh pihak “barat” dengan maksud untuk menguasai.
Iran dikucilkan oleh “barat” setelah digulingkannya dinasti Pahlavi yang pro-barat lewat sebuah revolusi pada tahun 1979. Revolusi ini juga menandai berdirinya Republik Islam Iran yang dipimpin oleh seorang imam, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Menembus Stereotip
Buku ini menantang stereotip tentang Iran dengan menghadirkan kisah nyata dari pengalaman Henry. Ia bertemu dengan perempuan muda yang bebas mengekspresikan diri melalui skateboard, dan melihat kemajuan teknologi di bidang kesehatan, seperti Robotic Surgery Sina.
Pada banyak pemberitaan, perempuan Iran yang juga sering digambarkan sebagai korban kediktatoran rejim, kebebasan mereka sangat dibatasi. Henry menepis persepsi ini.
Dalam salah satu bagian bukunya, Henry bercerita tentang pertemuannya dengan sekelompok perempuan muda yang tengah berolahraga skateboard di Ab-o-Atash, salah satu taman di Tehran.
“Terdapat enam taman yang didesain sangat bagus di Tehran yang sering digunakan untuk latihan
skateboard. Kattayon, salah satu pemain skateboard perempuan, yang rambutnya dicat warna ungu dan emas keperakan, mengenakan hoodie dan kaos Guns N’ Roses mengatakan bahwa mereka “merasa bebas” saat bermain skateboard, dan mereka berlatih setiap akhir pekan,” kata Henry.

Lebih dari Sekadar Buku Perjalanan
“Khodahafez Tehran” bukan sekadar buku perjalanan biasa. Henry menghadirkan refleksi mendalam tentang sejarah, budaya, dan politik Iran. Ia mengajak pembaca untuk membuka diri dan melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas.
Tersedia dalam Berbagai Format
Buku ini diterbitkan bekerjasama dengan Jejak Pustaka dan tersedia dalam bentuk cetak dan digital. Anda dapat membelinya di berbagai toko buku online dan offline, termasuk Tokopedia, Shopee, Gramedia, Google Play Book, dan toko buku indie seperti Blooks dan Post Book Store.
Sebuah Ajakan untuk Menjelajahi
“Khodahafez Tehran” bukan hanya sebuah kisah perjalanan, tetapi juga sebuah ajakan untuk menjelajahi dunia dengan pikiran terbuka dan rasa ingin tahu yang tak terbelenggu. Buku ini menawarkan perspektif baru tentang Iran dan penduduknya, membuka mata kita terhadap keindahan dan keragaman yang tersembunyi di balik stereotip.
Baca “Khodahafez Tehran” dan temukan Iran yang sesungguhnya! (ted)






