Sidoarjo (beritajatim.com) – Sebuah tradisi yang jarang terdengar di telinga masyarakat, yaitu tradisi Nyadran atau Ruwahan, menarik perhatian di Desa Balongdowo, Sidoarjo. Berbeda dari Nyadran pada umumnya, warga desa ini menggelar pesta peragaan cara mengambil kupang di tengah laut selat Madura.
Kegiatan Nyadran di Desa Balongdowo memiliki ciri khas tersendiri. Masyarakat desa, yang mayoritas bekerja sebagai nelayan kupang, siang harinya sibuk menyiapkan pesta perayaan. Wajah-wajah sumringah terpancar hingga tengah malam, menandakan antusiasme tinggi dalam menjalani tradisi ini.
Perayaan Nyadran dimulai pada dini hari sekitar pukul 1 pagi. Masyarakat berkumpul untuk mengelilingi desa, memulai perjalanan dari Desa Balongdowo Kecamatan Candi, menempuh jarak sekitar 12 Km menuju Dusun Kepetingan, Desa Sawohan Kecamatan Buduran. Perjalanan yang menarik ini melintasi sungai desa Balongdowo, Klurak Kali Pecabean, Kedung Peluk, hingga Kepetingan (Sawohan).
Saat iring-iringan perahu mencapai muara kali desa Pecabean, anak balita yang ada di perahu membuang seekor ayam. Legenda menyebutkan bahwa ini dilakukan untuk menghindari kesurupan pada anak kecil yang ikut dalam Nyadran.
Kepercayaan ini muncul setelah kejadian seseorang membawa anak kecil dan anak tersebut kesurupan. Dengan membuang seekor ayam hidup ke sungai Pecabean, diharapkan anak kecil akan terhindar dari malapetaka tersebut.
@koko_robin seng duwe salon ketar ketir#fyp #nyadran #sidoarjo24jam #sidoarjotiktok
♬ DJ BREAKBEAT GOD IS A GIRLS V3 NIGHT ALONE PROJECT – Taqiyudin`wolvest.1ne
Sekitar pukul 04.30 WIB, peserta iring-iringan perahu tiba di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan. Rombongan peserta Nyadran langsung menuju makam Dewi Sekardadu untuk mengadakan makan bersama. Selama menunggu fajar tiba, mereka berziarah, bersedekah, dan berdoa di makam tersebut, berharap agar berkah terus mengalir.
Dewi Sekardadu diyakini sebagai putri dari Raja Blambangan bernama Minak Sembuyu. Saat meninggal, ia dikelilingi ikan kepiting, menginspirasi nama dusun Kepetingan. Namun, masyarakat sering menyebutnya Dusun Ketingan.
Setelah dari makam Dewi Sekardadu, sekitar pukul 07.00 WIB, perahu-perahu meluncur ke selat Madura yang berjarak sekitar 3 Km. Pukul 10.00 WIB, iring-iringan perahu mulai meninggalkan selat Madura dan kembali ke Desa Balongdowo.
Perjalanan pulang dihiasi sambutan meriah warga yang berjejer di tepi sungai. Mereka melambai-lambaikan tangan dengan wajah sumringah, berharap mendapat berkah dan makanan dari peserta Nyadran.
Tradisi Nyadran di Desa Balongdowo tak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga memperlihatkan kekayaan budaya dan spiritualitas yang diwariskan dari generasi ke generasi. [beq]






