Surabaya (beritajatim.com) – Terhitung di tahun 2022 pasca Pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur (Jatim) secara umum terbilang cukup bagus. Bahkan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jatim juga dinilai cukup baik.
Hanya saja, pemerataan capaian pembangunan tersebut dinilai masih kurang. Artinya, ada sejumlah daerah di Jatim yang indeksnya masih sangat rendah. Kemudian, pendapatan per kapita juga masih agak timpang.
“Menurut saya itulah salah satu PR (pekerjaan rumah) Jawa Timur. Ada kabupaten-kabupaten indeksnya masih sangat rendah, kemudian pendapatan per kapita sebenarnya masih timpang,” ungkap Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Imron Mawardi kepada beritajatim.com, Kamis (6/10/2022).
Meski begitu, Imron tak menampik jika pasca pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi di Jatim kian membaik. Terbukti, pertumbuhan ekonomi Jatim mampu melampaui rata-rata nasional. Dan pada Triwulan II Tahun 2022 ini, pertumbuhan ekonomi Jatim mampu mencapai angka 5,74 persen. Tentu saja capaian ini melampaui target, yakni 5,3 persen.
Imron mengungkapkan, Provinsi Jatim, dari sisi pertumbuhan ekonomi memang sudah cukup baik. Namun persoalan ketimpangan atau disparitas antar wilayah masih tak bisa dihindari. Misalnya saja dengan tingginya kontribusi Kota Surabaya terhadap perekonomian Jatim. Yakni mendomiasi dengan angka 25 persen. Kemudian disusul Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto.
“Beberapa daerah, kabupaten lain itu kontribusinya cukup kecil. Dari sisi pertumbuhan ekonomi (Jatim) sudah cukup bagus. Mungkin yang masih jadi pr itu masih adanya ketimpangan yang cukup besar, dimana kontribusi perkonomian, misalnya Surabaya, hampir 25 persen. Kemudian beberapa kabupaten sangat kecil. Kabupaten-kabupaten, rata-rata 2 persen. Seperti Bangkalan 2,4 persen,” ungkap Imron.
Begitu juga dengan income per kapita. Imron membeberkan, jika terdapat banyak kabupaten/kota di Jatim yang income per kapitanya cukup rendah. “Juga di HDI (Human Development Index), beberapa kabupaten/kota HDI-nya cukup rendah,” bebernya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”ekonomi-jatim”]
Ia melanjutkan, dari income per kapita, tren pertumbuhan mengalami penurunan. Jika diperhatikan, meskipun mengalami pertumbuhan, namun tumbuhnya pun lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, jika dulu tumbuh 5 persen, sekarang hanya tumbuh 3 persen. Hal itulah yang harus diwaspadai oleh Pemprov Jatim.
“Kalau dilihat PDRB (Pendapatan Domestik Regional Bruto) per kapita, yang masih cukup rendah itu misalnya Kota Blitar, Kota Probolinggo. Bahkan PDRB per kapitanya masih di bawah rata-rata PDRB Jatim. Tapi pertumbuhannya cukup bagus. Tapi ada juga yang PDRB-nya rendah, pertumbuhannya juga sangat rendah. Tapi yang pertumbuhannya bagus, kemudian PDRB tinggi, hanya beberapa kabupaten/kota, misalanya Surabaya, Gresik, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto. Itu pendapatan per kapita sudah cukup tinggi, tumbuhnya lebih tinggi daerah lain. Saya kira itulah pr bagi Jawa Timur,” papar Imron.
Tak hanya itu, Imron juga menyoroti pembangunan di kawasan Selatan Jatim. Dirinya berharap agar Jalur Lintas Selatan (JLS) bisa difungsikan. Sebab, pertumbuhan ekonomi di daerah seperti Trenggalek, Pacitan, Tulungagung, dan Blitar bisa segera terangkat, sehingga nantinya akan seimbang dengan kawasan Utara Jatim.
“(Selama ini pembangunan utara lebih optimal), karena itu terkait dengan akses. Kalau di utara kan sudah ada tol, misalnya Mojokerto, Gresik. Ini kan lebih terfasilitasi dengan akses. Akses yang lebih mudah. Sekarang sudah ada tol tengah, mencapai Kertosono. Harapannya nanti di sana akan tumbuh lebih tinggi, dan begitu juga nanti selatan. Ketika akses-akses itu sudah terbuka maka nanti diharapkan ke depan tumbuh lebih tinggi, sesuai dengan daerah utara,” harapnya.
Selain itu, lanjut Imron, Pemprov Jatim juga memiliki problem serius yang masih menjadi PR Yaitu terkait daerah-daerah di Jatim dengan jumlah orang miskin terbesar, seperti Sampang, Bangkalan, Pamekasan, Bondowoso, dan Situbondo. Daerah tersebut harus mendapat perhatian lebih dari Pemprov Jatim.

“Seharusnya Pemerintah Provinsi Jawa Timur lebih konsen, bagaimana supaya pertumbuhan ekonomi itu linier dengan pengentasan kemiskinan. Artinya, ketika ekonomi tumbuh maka orang miskin itu berkurang. Selama ini, program-program pembangunan kurang sesuai, dimana ekonomi itu ditumbuhkan tapi yang tumbuh ini bukan pada sektor dimana yang di situ banyak orang miskin,” terang Imron.
Ia lantas mencontohkan. Misalnya orang miskin itu banyak di pedesaan, kemudian mereka banyak menggantungkan hidup dari pertanian. Tetapi pembangunan ekonomi itu kurang mengarah kepada pembangunan di sektor pertanian. Sehingga pembangunan yang tinggi, diikuti dengan pertumbuhan yang tinggi belum bisa mengurangi kemiskinan secara signifikan.
“Kalau kita lihat kontributor terhadap perekonomian tertinggi itu masih sektor industri dan perdagangan. Maka, bagaimana sebisa mungkin bahwa industri itu menyasar pada sektor dimana orang miskin itu berada. Berarti, yang lebih cocok apa? Mestinya industri yang terkait dengan bidang pertanian. Kan begitu. Supaya, pembangunan ekonomi itu nanti ke depan akan linier dengan pengentasan kemiskinan,” katanya.
“Menurut saya (Pemprov Jatim) harus konsen di sana. Supaya jangan sampai ekonomi itu tinggi tapi dinikmati oleh sedikit orang saja,” imbuhnya.
[berita-terkait number=”2″ tag=””pandemi]
Secara khusus, di momen HUT ke-77 Provinsi Jatim ini, Imron juga berpesan kepada Pemprov Jatim agar memperhatikan adanya kenaikan BBM, kemudian inflasi yang cukup tinggi di bulan September 2022. Yang itu mengancam pada menurunnya daya beli masyarakat, terutama masyarakat rentan miskin. Pasalnya, penurunan daya beli itu akan berdampak pada meningkatnya jumlah orang miskin.
“Kita punya masalah di sana. Karena menurut saya pemerintah Jawa Timur harus lebih terorientasi pada mengatasi problem kemiskinan daripada konsen pada pertumbuhan ekonomi. Menurut saya ini penting bagi pemerintah provinsi untuk mengutamakan mengatasi masalah kemiskinan di Jatim yang cukup tinggi. Apalagi ini terkait juga dengan kenaikan harga BBM yang juga memicu pada inflasi yang cukup tinggi di Jatim,” pesannya. [ipl/suf]






