Surabaya (beritajatim.com) – Kisah keluarga Whitaker yang melakukan perkawinan sedarah menjadi sorotan di masyarakat. Khususnya setelah kisah keluarga Whitaker diangkat ke dalam film dokumenter.
Keluarga tersebut tinggal di sebuah kota bernama Odd, di pedesaan West Virginia, sebuah negara bagian Amerika Serikat yang terletak di bagian timur.
Kondisi keluarga tersebut dinilai menyeramkan karena melakukan perkawinan sedarah hingga menyebabkan anak-anaknya mengalami kelainan mental dan fisik.
Melansir dari National Geographic, anggota keluaga Whitaker terdiri dari Lorraine, Ray dan Timmy yang mengalami cacat mental. Sementara itu, Ray tidak bisa berbicara dan hanya mendengus.
“Beberapa anggota hanya berkomunikasi melalui gerutuan dan tidak dapat berbicara. Beberapa tidak bersekolah,” tulis Caitlin Hornik kepada The Sun.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kisah”]
Kisah tentang keluarga Whitaker ini menjadi viral karena diungkap melalui buku berjudul Created Equally yang ditulis oleh Mark Laita pada 2004.
Hal tersebut bukan hal yang mudah bagi Laita. Dia menyebutkan bahwa momen tersebut merupakan kunjungan paling gila yang pernah dialaminya.
Pada awalnya, Laita mengaku tidak diterima dengan sambutan yang baik. Dia mengungkapkan, seorang tetangga di sekitar kediaman keluarga Whitaker sempat mengusir Laita dengan membawa senapan.
Menurutnya, warga sekitar diketahui sangat protektif terhadap keluarga Whitaker hingga tak segan mengusir siapa saja yang datang.
Meski demikian, Laita tak menyerah. Dia melakukan diskusi dan negosiasi panjang dengan para tetangga di sekitar kediaman Whitaker.
Melalui cara tersebut, akhirnya Laita berhasil mendapatkan kesempatan untuk mengetahui lebih banyak soal keluarga Whitaker.
Bahkan, Laita juga berhasil kembali lagi untuk menemui keluarga Whitaker untuk mengerjakan video dokumenter.
Asal-usul Keluarga Whitaker
Keluarga Whitaker merupakan kelompok orang yang terisolir dari dunia luar sehingga tak banyak diketahui oleh masyarakat sekitar.
Selain itu, anggota keluarga tersebut juga tak memberikan informasi apapun terkait asal-usul keluarga mereka akibat keterbatasan komunikasi.
Alhasil, terdapat sebuah hipotesis yang disimpulkan terkait adanya efek perkawinan sedarah yang terjadi dalam keluarga Whitaker.
Dasar dari hipotesis ini berasal dari efek dan pola tradisi perkawinan sedarah yang umum terjadi di wilayah Virginia Barat. Hipotesis itu juga diperkuat dengan banyaknya laporan yang mengungkap bahwa keturunan perkawinan sedarah beresiko cacat kognitif, gangguan fungsi paru-paru, penyakit jantung, dan rentan terhadap penyakit lain.
Di sisi lain, keluarga Whitaker juga dilaporkan kesulitan bekerja mengingat kondisi kelainan fisik dan mental yang dialami. Apalagi, pendapatan tahunan di barat daya Virginia rata-rata rendah. Hal ini membuat keluarga tersebut hidup dalam kemiskinan.
Melihat kondisi tersebut membuat Laita menawarkan makanan dan uang kepada keluarga Whitaker untuk menunjukkan niat baiknya. Hal ini juga yang membuat tetangga Whitaker menerima Laita.
Kendati demikian, belum ada hasil yang bisa mengungkap tentang kebenaran sosok Whitaker yang diduga melakukan pernikahan sedarah. Pasalnya, keluarga ini misterius dan tertutup sehingga sulit untuk melanjutkan penyelidikannya. (nap)






