85 tahun lamanya kapal tenggelam di perairan Brondong, Lamongan Van Der Wijck. Kapal itu memiliki julukan “de meeuw” atau “The Seagull” karena penampilannya yang tampak sangat anggun dan begitu tenang. Kapal Van der Wijck merupakan kapal kargo penumpang bertenaga dari uap uap.
Dari peristiwa tenggelamnya kapal ini berdiri sebuah monumen sebagai peringatan untuk kapal Van Der Wijck. Monumen tersebut terletak di kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong, Lamongan.
Monumen tersebut dibangun sebagai rasa terimakasih Pemerintah Hindia Belanda kepada warga dan untuk mengenang tenggelamnya kapal. Monumen itu terdiri dari 3 lantai dan pada lantai 2 terdapat balkon yang menghadap ke arah laut. Terdapat dua prasasti di dinding barat dan timur monumen prasasti terbuat dari plat besi yang ditulis dalam bahasa Belanda dan Indonesia.
Selain itu, peristiwa tenggelamnya kapal ini dijadikan Inspirasi dari cerita fiksi karya Hamka berjudul “Tenggelamnya kapal Van de Wijck”. Novel Tenggelamnya kapal Van de Wijck berawal sebagai cerita bersambung di majalah Pedoman Masyarakat yang terbit secara berkala pada 1938.
Novel ini menceritakan Zainudin dan Hayati, sepasang kekasih yang terhalang cintanya karena adat istiadat Minangkabau. Novel ini lalu diadaptasi menjadi film yang diangkat ke layar lebar pada tahun 2013. Dalam tujuh hari pemutaran, film yang dibuat oleh Soraya Intercine Film dan disutradarai oleh Sunil Soraya tersebut ditonton 570 ribu penonton.
Pencarian bangkai Kapal Kapal Van Der Wijck dilakukan sejak Juni 2021, tim arkeolog dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur mulai melakukan observasi lapangan di titik yang diduga lokasi tenggelamnya kapal ini. Tim arkeolog melakukan survei dan penyelaman di sekitar perairan Brondong, Lamongan.
Lalu mereka berusaha mengabadikan beberapa foto yang diperlukan untuk mencocokkan bagian-bagian dengan gambar dari Kapal Van Der Wijck. Namun hingga saat ini, tim arkeolog masih perlu melakukan identifikasi untuk memastikan apakah benar kapal yang dimaksud merupakan bangkai dari Van Der Wijck.
Melalui eksplorasi yang dilakukan oleh tim arkeolog dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, titik lokasi tenggelamnya kapal dapat ditemukan. Proses identifikasi dilakukan dengan terus melakukan kajian soal bangkai kapal yang memiliki panjang 97,5 meter, lebar 13,4 meter dan tinggi 8,5 meter. [dan/tur]






