Surabaya (beritajatim.com) – Sosok ini mungkin sudah tidak asing karena terdapat pada uang kertas 10.000 Rupiah. Namun, tidak banyak yang tahum jasa besar dari Frans Kaisiepo. Frans merupakan orang yang berjasa dalam mempersatukan Bumi Cendrawasih, Papua, ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Frans Kaisiepo dapat disebut sebagai angkatan pertama orang asli Papua yang mengenyam pendidikan tinggi. Masyarakat sekitar pun lantas menaruh rasa hormat pada Frans karena kecerdasan dan keteladanan perilaku. Sebagai anak pertama dari seorang kepala suku, Frans tetap dihormati meski ayahnya telah tiada.
Saat muda, Frans Kaisiepo kerap memikul tanggung jawab ketika memimpin perang antar suku. Saat itu, perang antar suku adalah hal yang wajar lantaran sudah menjadi bagian dari tradisi berbagai suku di wilayah Papua. Frans juga tercatat sebagai orang pertama yang penuh kebanggaan mengibarkan bendera merah putih di Irian Jaya pada 31 Agustus 1945.
Saat tanah Papua masih diduduki Belanda, Frans menjadi salah satu orang yang menyebarkan adanya Republik Indonesia. Lantas, Frans Kaisiepo mengadakan sebuah upacara di Biak, lengkap dengan pengibaran bendera Merah Putih juga mengumandangkan lagu Indonesia Raya.
Lalu, berlanjut pada Juli tahun 1946, Frans menjadi utusan Nederlands Nieuw Guinea dan satu-satunya orang asli Papua pada Konferensi Malino di Sulawesi Selatan. Dalam konferensi itu, Frans menentang niat Belanda guna menggabungkan Papua dan Maluku jadi satu bagian dari Negara Indonesia Timur (NIT).
Pada tahun 1946 Frans menginisiasi berdirinya Partai Indonesia Merdeka di Biak. Frans pun mengkampanyekan juga mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Papua. Sebab beberapa hal tersebut, dirinya harus mendekam di balik penjara oleh Belanda sejak 1954 hingga 1961.
Pada tahun 1961 Frans mendirikan partai Irian
Sebagian Indonesia (ISI). Partai tersebut bertujuan menuntut penyatuan Papua dengan Republik Indonesia. 15 Agustus 1963 lewat Perjanjian New York, wilayah Papua akhirnya resmi dianggap masuk dalam wilayah kedaulatan Indonesia. Atas jasa-jasa dalam usaha menggabungkan Papua dengan Indonesia, Frans Kaisiepo dianugerahi penghargaan Bintang MahaPutra Adipradana Kelas Dua.
Penghargaan itu terutang pada tahun 1993 berdasarkan Keputusan Presiden nomor 077/TK/1993. Sehingga nama Frans Kaisiepo ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Lalu, fotonya diabadikan dalam lembaran uang rupiah Rp10.000 yang keluar tahun 2016. [dan/tur]






