Surabaya (beritajatim.com) – Sebagai penikmat sepakbola, anda pasti sudah sering mendengar istilah flase nine. Yakni memainkan pemain yang bukan striker di posisi nomor 9. Nomor yang dalamstrategi sepakbola menjadi kode bagi posisi striker.
Namun, pemahaman mengenai false nine pun terus berkembang seiring dengan berkembangnya sepakbola modern. Pengertian false nine pun mengalami pergeseran lebih ke peran pemain.
Tidak harus gelandang atau pemain sayap yang bise disebut false nine. Bahkan, pemain yang posisi aslinya memang penyerang tengah bisa saja mendapat peran sebagai false nine.
Sepakbola jaman dulu memakai nomor punggung pemain ditentukan oleh posisi mereka di atas lapangan. Untuk nomor 9 sendiri identik dengan sosok penyerang tengah. Tapi, berbeda dengan penyerang klasik, seorang false 9 modern seringkali menerima bola di posisi yang lebih dalam dan ikut membangun serangan bersama para gelandang.
Saking populernya Pep Guardiola, mungkin banyak yang mengira jika Guardiola dan Messi yang jadi penemu dari peran false 9 ini. Namun, peran false 9 ini sudah ada dari tahun 1930an. Salah satu pemain yang pertama kali berperan sebagai false 9 adalah legenda Austria yaitu Matthias Sindelar.
Matthias Sindelar dipasang sebagai false 9 karena memiliki fisik yang tidak terlalu kuat tapi punya kreativitas, namun punya skill dribbling yang bagus. Setelah itu, muncul sosok lain yang memainkan peran serupa seperti Nándor Hidegkuti dari Hungaria.
Pada saat awal pertandingan, false 9 akan berada di posisi depan. Tapi, di fase build-up, mereka akan turun ke lini tengah untuk membantu membangun serangan. Dari pergerakan ini, akan ada 2-3 situasi yang terjadi.
Pertama, adanya superioritas jumlah di lini tengah. Kedua, hal ini bakal membuat pemain belakang tengah lawan bingung untuk ikut atau membiarkan false 9. Sebab jika mereka ikut, akan ada celah di lini belakang yang bisa dimanfaatkan oleh para pemain sayap.
False 9 sendiri merupakan peran paling sulit dalam sepakbola. Tidak semua pemain bisa memainkan peran ini dan lebih banyak lagi yang gagal. Tapi, Pep Guardiola berhasil merevolusi peran ini lewat seorang Lionel Messi.
Pep sadar jika La Pulga terlalu berbakat untuk sekedar dipasang jadi pemain sayap dan menunggu bola. Selain itu, ada pula timnas Spanyol yang sukses mendominasi sepakbola dunia dan memasang Cesc Fabregas sebagai seorang false 9.
False 9 ini juga memiliki strategi yang bisa mengcounter. Salah satunya adalah dengan menggunakan formasi 4-2-3-1 dengan double pivot untuk mengurangi ruang bagi false 9 untuk beroperasi. Singkatnya, taktik parkir bus ala Mourinho bisa cukup efektif menghalau peran false 9. [dan/tur]






