Gresik (beritajatim.com)- Makanan khas Gresik sudah banyak dikenal oleh masyarakat. Makanan tradisional seperti pudak, otak-otak bandeng, ayas dan jubung sangat familiar bagi masyarakat Jawa Timur karena bisa dijadikan buah tangan atau oleh-oleh buat sanak keluarga.
Dari puluhan makanan khas Gresik, ada yang namanya ‘kupat ketek’ yang sampai saat ini masih bertahan di tengah serbuan makanan siap saji (Junk Food).
[berita-terkait number=”5″ tag=”kuliner”]
Makanan tradisional ini terbuat dari beras ketan dan air ketek. Tidak banyak penjual yang menjajakan makanan khas itu. Sehingga hanya bisa dijumpai di daerah tertentu. Utamanya di daerah sekitar makam Sunan Giri.
Penjual kupat ketek, Surachman (66) dan Inem (57) warga Jalan Dewi Sekardadu, Kampung Margonoto, Kecamatan Kebomas, Gresik masih cekatan membuat bungkus kupat ketek dari pohon pisang dan pohon siwalan.
Surachman bersama istrinya sudah puluhan tahun berjualan kupat ketek. Namun, menjelang Hari Raya Ketupat, pesanannya tidak seramai dibanding tahun-tahun sebelumnya. Air ketek yang dijual untuk bahan dasar pembuatan ketupat terbilang sepi. Perharinya, Surachman hanya menghabiskan 3,5 ton air ketek.
Oleh Surachman air ketek itu dijual Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu per satu jirigennya. “Kalau ramai, kami bisa menjual lebih dari 3 tong air ketek. Tapi, saat ini pemesanannya lagi sepi,” ujarnya, Minggu (16/5/2021).
Per biji kupat ketek setelah jadi, Surachman dan istrinya menjual makanan khas ini dengan harga Rp 50 ribu (12 biji kupat ketek). Dari hasil tersebut, Surachman hanya meraup keuntungan Rp 500 ribu lebih selama seminggu. Kondisi ini, berbanding terbalik saat sebelum pandemi Covid-19. Dimana pesanannya, meningkat tajam. Sehingga, mampu meraup keuntungan Rp 1 juta selama seminggu.
Keunikan membuat kupat ketek memang membutuhkan waktu yang cukup lama saat proses pemasakan. Dibutuhkan waktu kurang lebih 5 jam supaya kupat ketek dihasilkan terasa kenyal dan tidak kaku saat dijual.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gresik”]
“Kupat ketek memang berbeda dengan kupat biasanya. Cara penyajian kupat ketek dicampur kelapa parut dan diolesi gula jawa lalu disantap. Sedangkan kupat biasa disajikan bersama sayur sebagai lauk pauk,” kata Surachman.
Kini, makanan khas asli Gresik itu hanya bisa dijumpai saat menjelang Hari Raya Ketupat. Surachman menceritakan tidak mudah untuk mendapatkan air ketek yang terletak di bukit dekat makam Dewi Sekardadu itu.
Dibutuhkan perjuangan yang cukup berat. Sebab, tidak sembarang orang bisa melakukan. Jika salah perhitungan bisa celaka karena bukitnya sangat terjal, licin, dan berbatu. Ini karena sumur air ketek hanya berdiameter 1,5 meter dengan kedalaman dua jengkal jari. [dny/suf]






