Malang (beritajatim.com) – Andhyka Muttaqin, S.AP., M.PA., pakar kebijakan publik Universitas Brawijaya (UB) Malang menjelaskan soal hedonic treadmill yang menggambarkan kecenderungan manusia untuk kembali ke tingkat kebahagiaan yang relatif stabil. Memahami konsep ini dapat membantu seseorang mengatur ekspektasi.
Dikatakan Andhyka, dengan mengatur hedonic treadmill dapat membuat seseorang fokus pada aspek kehidupan yang lebih bermakna. Selain itu, bisa juga mengembangkan strategi untuk mencapai kebahagiaan yang lebih stabil dan berkelanjutan.
“Hedonic treadmill adalah istilah dalam psikologi yang terjadi pada seseorang meskipun telah mengalami perubahan signifikan dalam hidup mereka, baik itu positif atau negatif. Istilah ini juga dikenal sebagai “hedonic adaptation” atau “adaptasi hedonik,” ujar dosen jebolan S2 Universitas Gadjah Mada ini.
Konsep hedonic treadmill, lanjut Andhyka, pertama kali diperkenalkan oleh Philip Brickman dan Donald T. Campbell pada tahun 1971. Mereka mengamati bahwa setelah peristiwa besar, seperti memenangkan lotere atau mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cacat, individu pada akhirnya kembali ke tingkat kebahagiaan mereka sebelum peristiwa tersebut terjadi.
Adaptasi hedonik bekerja melalui dua proses utama. Pertama, adaptasi sensorik, ketika seseorang terbiasa dengan stimulus yang sama berulang kali, respon emosionalnya terhadap stimulus tersebut berkurang.
“Misalnya, membeli mobil baru mungkin membuat seseorang sangat bahagia pada awalnya, tetapi setelah beberapa waktu, perasaan tersebut akan mereda dan menjadi normal,” ujar dosen Fakultas Ilmu Administrasi UB ini.
Kedua, perubahan ekspektasi dan keinginan Setelah mencapai tujuan tertentu, ekspektasi dan keinginan seseorang cenderung meningkat. Ketika seseorang mencapai tujuan, lanjut Andhyka, dia mungkin akan segera menetapkan tujuan baru yang lebih tinggi, sehingga tingkat kebahagiaan relatif tetap stabil.
Menurutnya, konsep hedonic treadmill memiliki beberapa implikasi penting bagi kehidupan sehari-hari. Pertama, pencarian kebahagiaan yang tak berujung. Banyak orang terus mencari kebahagiaan melalui pencapaian materi, hubungan, atau status sosial, tetapi sering kali merasa tidak puas dalam jangka panjang.
“Kedua, manajemen harapan, menyadari keberadaan hedonic treadmill dapat membantu seseorang realistis dalam menetapkan harapan dan tujuan hidup. Ini mendorong individu untuk mencari kebahagiaan dalam hal yang lebih stabil dan mendalam, seperti hubungan sosial yang bermakna, kegiatan memuaskan, dan pengembangan diri,” lanjutnya.
Sementara itu, ketiga, pentingnya Syukur dan mindfulness. Dilakukan dengan latihan bersyukur dan mindfulness dapat membantu individu untuk menikmati momen saat ini dan menghargai apa yang mereka miliki sehingga dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan secara keseluruhan.
Disebutkan pihaknya, untuk mengurangi efek hedonic treadmill dan meningkatkan kebahagiaan jangka panjang, beberapa strategi yang dapat diterapkan meliputi. Pertama, fokus pada pengalaman bukan barang.
“Penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan uang untuk pengalaman (seperti perjalanan atau hobi) lebih meningkatkan kebahagiaan daripada membeli barang-barang material,” ujar Andhyka.
Kedua, mengembangkan hubungan sosial. Hubungan yang erat dan bermakna dengan keluarga dan teman-teman adalah sumber kebahagiaan yang lebih stabil daripada pencapaian materi.
Ketiga, keterlibatan dalam kegiatan yang berarti. Terlibat dalam pekerjaan atau aktivitas yang memberikan rasa pencapaian dan makna dapat meningkatkan kebahagiaan jangka panjang.
“Yang terakhir itu praktik syukur. Secara teratur merenungkan hal-hal yang membuat kita bersyukur dapat meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan mental,” tutup Andhyka melalui keterangan tertulis, Selasa (23/7/2024). [dan/aje]






