Malang (beritajatim.com)- Gunung Semeru sebagai gunung tertinggi Pulau Jawa memikat jutaan para pendaki dengan pemandangan alam yang indah dan jarang ditemui di tempat lain. Beberapa panorama yang ditemui ketika pendakian seperti sabana yang luas, hamparan hutan hijau, hingga lautan awan yang membentang di kaki langit saat sudah berada di atas.
Selain keindahannya, Semeru memiliki tempat yang sangat tenar bagi pendaki yakni Ranu Kumbolo, danau alami yang menjadi tempat favorit untuk berkemah dengan air yang jernih. Keindahan lain ada di Tanjakan Cinta dan Oro-oro Ombo dengan hamparan padang bunga jika saat musim bunga tiba.
Namun , Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan aktivitas tinggi pada Rabu, 19 November 2025. Letusan yang memunculkan abu dan awan panas tersebut menambah daftar panjang aktivitas vulkanik gunung tertinggi di Pulau Jawa itu selama beberapa tahun terakhir.
Erupsi yang terjadi kemarin juga membuat banyak pihak panik tatkala masih ditemukannya ratusan pendaki yang masih terjebak di Ranu Kumbolo.
Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS, Septi Eka Wardhani, menuturkan ada total 178 orang yang masih tertahan di Ranu Kumbolo Semeru. 178 orang tersebut terdiri dari 137 pendaki, 1 petugas, 2 saver, 7 anggota PPGST, 15 porter, serta 6 orang dari tim Kementerian Pariwisata.
Disarikan dari situs resmi PVMBG/ESDM, BNPB, BPBD Malang dan Lumajang dan berbagai sumber berikut kronologi erupsi Gunung Semeru dalam kurun 2021 hingga 2025 yang sudah terjadi sebanyak lima kali:
1. 4 Desember 2021
Erupsi besar pada 4 Desember 2021 menjadi salah satu kejadian dengan korban terbanyak dalam sejarah Semeru. Awan panas dan lahar dingin menyapu permukiman di lereng, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan besar, termasuk runtuhnya Jembatan Gladak Perak, jalur vital yang menghubungkan dua sisi Lumajang.
BNPB mencatat puluhan korban meninggal, ribuan mengungsi, dan ratusan rumah rusak. Laporan kemanusiaan dari berbagai lembaga internasional mencatat skala kerusakan yang memicu evaluasi mitigasi bencana vulkanik jangka panjang.
2. 4 Desember 2022
Erupsi pada 4 Desember 2022 terjadi dini hari. PVMBG mencatat kolom abu setinggi 1.500 meter dan satu kejadian awan panas guguran. Akibat intensitasnya, status gunung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas).
Ribuan warga mengungsi. Akses jalan beberapa desa tertutup material vulkanik, sementara BPBD fokus pada evakuasi warga lanjut usia, anak-anak, dan kelompok rentan. Erupsi ini disebut sebagai kelanjutan dari fase erupsi besar 2021.
3. Erupsi 7 Mei 2024
Pada Mei 2024, Gunung Semeru mencatat beberapa kali erupsi dalam satu minggu. PVMBG melaporkan kolom abu mencapai 600 meter dari puncak, disertai aktivitas guguran di sektor tenggara.
Otoritas setempat menutup akses di radius aman, terutama bagi pendaki dan warga yang beraktivitas di jalur lahar.
Erupsi beruntun ini menunjukkan bahwa Semeru berada dalam fase erupsi terus-menerus sejak 5 tahun terakhir terhitung 2020 hingga 2025.
4. Erupsi 9 Januari 2025
Pada 8–9 Januari 2025, pos pantau mencatat letusan berulang dengan kolom abu mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak. Aktivitas vulkanik ini merupakan bagian dari fase erupsi intermiten Semeru sejak akhir 2024.
PVMBG meningkatkan kewaspadaan masyarakat, terutama di jalur aliran lahar dan sungai yang berhulu di puncak Semeru. Walau tidak sebesar erupsi 2021–2022, fenomena ini menandai konsistennya tekanan magmatik di tubuh gunung.
5. Erupsi pada 19 November 2025
Pada Rabu, 19 November 2025, Semeru kembali meletus dengan kolom abu teramati hingga sekitar 2.000 meter di atas puncak dan awan panas guguran yang mencapai hingga 7 kilometer dari kawah. Hal ini membuat Otoritas setempat kemudian menaikkan status gunung ke Level IV (Awas).
Dampak awal erupsi Gunung Semeru membuat ratusan warga terdampak pengungsian. Sumber menyebutkan tercatat 346 warga mengungsi ke sejumlah pos pengungsian di Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro karena ancaman awan panas, hujan abu vulkanik, dan potensi aliran lahar dingin.
Informasi yang dihimpun beritajatim sejak Rabu (19/11/2025) petang menyebutkan pasangan suami istri menjadi korban luka bakar dan dirujuk ke RS di Pasirian akibat luka bakar sekitar 20 persen.
Kondisi darurat telah ditetapkan oleh pemerintah daerah. Sebagai langkah antisipasi dan kesiapan, beberapa tindakan telah dilakukan di antaranya:
Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status tanggap darurat bencana alam selama 7 hari, mulai 19 hingga 25 November 2025.
Tim gabungan dari Basarnas, BPBD Lumajang, TNI/Polri, dan relawan mengintensifkan evakuasi warga dari zona rawan ke titik aman dan pusat pengungsian seperti Balai Desa Oro-oro Ombo, Balai Desa Penanggal, dan SD 2 Supiturang.
Pengungsian dilengkapi layanan medis, logistik, dapur umum, dan pemantauan aliran sungai berhulu gunung untuk menghindari banjir lahar dingin apabila terjadi hujan. [aje]






