Memulai invasi ke negara lain atau perang hakikatnya satu policy sangat sulit dalam proses pengambilan keputusannya. Banyak aspek yang mesti dikalkulasi. Tak sekadar peluang menang atau kalah.
Keunggulan persenjataan sistem pertahanan utama, banyak aspek lain, seperti dampak ekonomi, politik nasional, geopolitik, sosial, relasi antarnegara di level global, dan lainnya.
Jauh lebih sulit adalah mengakhiri perang. Sebab, policy mengakhiri perang dampaknya tak kalah kompleks dibanding policy memulai perang.
Ketika Amerika Serikat dan Uni Sovyet memutuskan meninggalkan Afghanistan, policy tersebut dipandang kemenangan politik dan militer kaum Mujahidin versus Uni Sovyet dan pasukan Taliban versus Amerika Serikat.
Policy mengakhiri perang punya implikasi politik dan sejarah yang panjang. Kekalahan Amerika Serikat di perang Vietnam pada awal 1970-an menjadi noktah hitam tentara dan militer Amerika Serikat hingga sekarang.
Padahal, catatan sejarah tentara Amerika Serikat menorehkan banyak kemenangan dan prestasi emas di sejumlah palagan selama Perang Dunia II.
Ketika meninggalkan Afghanistan pada 1989, Tentara Merah Uni Sovyet tak merasa kalah dalam perang selama 10 tahun di negara miskin yang berada di kawasan Asia Tengah tersebut.
Uni Sovyet ketika mulai menarik 103.000 pasukannya dari Afghanistan pada Agustus 1988 merasa tak memenangkan atau mengalami kekalahan perang. Letjen Boris Gromov, panglima terakhir Satuan Darat ke-40 di Afghanistan, mengatakan, “Tidak ada dasar untuk menyatakan bahwa Satuan Darat ke-40 Sovyet menderita sebuah kekalahan, sebagaimana tidak ada dasar untuk mengatakan bahwa kita meraih kemenangan militer di Afghanistan.”
Pandangan yang disampaikan Letjen Boris Gromov dibenarkan Aleksandr Liakhovski, penasihat militer Sovyet yang pernah bertugas beberapa tahun di Afghanistan dan kemudian menjadi penulis sejarah ternama di Rusia tentang perang Afghanistan. Liakhovski menyatakan bahwa Sovyet tidak kalah perang di Afghanistan.
“Merupakan hal yang salah bahwa Satuan Darat ke-40 Sovyet menderita suatu kekalahan militer. Masalahnya hanyalah Satuan Darat tersebut dihadapkan pada tugas yang dalam posisinya tidak dapat dijalankan. Karena sebuah tentara regular tidak dapat secara radikal menyelesaikan masalah pemberontakan,” kata Liakhovski.
Vietnam dan Afghanistan, dua negara di Benua Asia, telah memberikan banyak pelajaran berharga tentang perang kepada dua negara besar: Amerika Serikat dan Uni Sovyet (Rusia).
Dalam kedua kasus, negara adidaya tersebut bertempur untuk menopang dan mendukung sebuah rezim pemerintahan yang korup dan tak populer di mata mayoritas rakyatnya. Saat itu, Vietnam dan Afghanistan sama-sama negara miskin. Label negara miskin tetap disandang Afghanistan hingga sekarang setelah serdadu Amerika Serikat hengkang.
Dalam kedua kasus, Vietnam versus Amerika Serikat dan Afghanistan versus Uni Sovyet, pasukan konvensional dalam jumlah besar, yang ditopang persenjataan modern dan lengkap berperang melawan kaum gerilyawan yang menerapkan strategi perang hit and run, bukan search and destroy (cari dan hancurkan).
Negara adidya awalnya meremehkan kapasitas militer musuhnya. Mereka meyakini mampu memenangkan peperangan dalam tempo singkat. Nyatanya, lebih 10 tahun Sovyet di Afghanistan bertekuk lutut oleh gerilyawan Mujahidin.
Gerilyawan Vietcong memporak-porandakan mental dan strategi perang Amerika Serikat di Vietnam. Kaum Taliban di Afghanistan membuat policy maker di Gedung Putih Washington putus asa tanpa tahu kapan perang Afghanistan bakal berakhir. Lebih baik angkat kaki daripada lebih banyak lagi serdadu Amerika berkalang tanah di Afghanistan.
Fakta geografi Vietnam dan Afghanistan juga menguntungkan kaum gerilyawan. Di mana pegunungan berhutan di Vietnam dan dataran tinggi berbatu-batu yang tandus di Afghanistan menyediakan tempat pengungsian, benteng pertahanan dan perlindungan kaum gerilyawan dari ancaman serangan udara tentara konvensional dari kedua ngara adidaya tersebut.
Karena memiliki keunggulan di persenjataan tempur, Sovyet dan Amerika sangat bergantung kepada hasil daya gempur yang dilakukan tentara regulernya. Terutama serangan matra udara oleh jet tempur, bukan kekuatan pasukan infanteri untuk menghancurkan gerilyawan musuh yang bergerak licin.
Taktik perang dengan mengandalkan daya gempur, search and destroy, peralatan militer modern dan canggih ternyata tak mampu mengalahkan kelompok gerilyawan.
Dalam kasus perang Vietnam dan Afghanistan era Sovyet, tentara reguler yang diterjunkan kedua negara adidaya sebagian di antaranya personel wajib militer. Serdadu yang tak tahu apa tujuan mereka diterjunkan ke palagan. Pikirannya hanya tetap hidup dan ingin segera pulang ke rumah.
Dalam kasus Amerika selama perang Vietnam, personel tentara dari wajib militer tersebut menyebabkan meluasnya sikap dan perilaku menolak bertempur. Dan tercatat lebih dari 1.000 kasus fragging (prajurit yang membunuh perwiranya sendiri).
“Pada akhirnya, Tentara Merah Sovyet memang memiliki taktik yang baik, tetapi tidak mempunyai strategi yang mumpuni. Mereka bisa memenangkan pertempuran, tapi tidak dapat meraih kemenangan yang meyakinkan. Usaha-usaha terbaik mereka, baik secara militer maupun politik, tidak menghasilkan apa-apa. Sehingga akhirnya tidak memiliki pilihan selain melepaskan diri sebisa mungkin dari lumpur Afghanistan,” tulis Nino Oktorino (2020) dalam bukunya tentang perang Afghanistan versus Sovyet (1979-1989).
Sepanjang 1979-1989, 10 tahun, sebanyak 620.000 tentara Sovyet pernah ditugaskan di Afghanistan. Pada masa puncaknya, kekuatan pasukan Sovyet yang beroperasi di Afghanistan sebanyak 150.000 tentara.
Dari 620 ribu tentara yang ditugaskan tersebut, sebanyak 525 ribu adalah anggota angkatan bersenjata Sovyet, 90 ribu anggota KGB, dan 5.000 orang lainnya adalah anggota MVD.
Di akhir perang Afghanistan, Sovyet mengakui telah kehilangan nyawa 12.854 prajurit dan 1.979 perwira terbunuh. Sebanyak 35.478 prajurit terluka dalam sejumlah pertempuran di Afghanistan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ainur-rohim”]
Sedang kerugian peralatan tempur Sovyet meliputi 114 pesawat terbang, 332 helikopter, 147 tank, 1.314 kendaraan lapis baja pengangkut personel, 433 pucuk meriam dan mortar, 510 kendaraan teknis, dan 11.369 truk.
Perang Afghanistan mempercepat keruntuhan Uni Sovyet sebagai sebuah nation-state. Posisi Sovyet sebagai negara superpower juga ambruk. Afghanistan sebuah negara kecil dan miskin telah menunjukkan kepada dunia bahwa Sovyet tak hanya dikalahkan dengan perlawanan yang mereka lakukan. Tapi, sekaligus menegaskan bahwa peralatan tempur modern dan tentara reguler terlatih bukan jaminan mampu memenangkan pertempuran melawan kaum gerilyawan.
Pengalaman buruk Sovyet itu dinapaktilasi Amerika Serikat di palagan yang sama berujung hengkangnya tentara Paman Sam dari Afghanistan pada akhir 2021 lalu. Perang merupakan hal sulit untuk dimulai. Namun, lebih sulit lagi untuk mengakhirinya. Apakah invasi Rusia ke Ukraina di era Vladimir Putin bakal mengalami nasib serupa seperti dialami pasukan Uni Sovyet di Afghanistan pada era Leonid Brezhnev, yang berujung penarikan pasukan Sovyet di era Mikhail Gorbachev? [air/but]






