Banyak yang membandingkan tragedi Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada 1 Oktober 2022 dengan tragedi Hillsborough di Sheffield, Inggris, pada 15 April 1989. Perbandingan paling terang tentu saja pada jumlah korban jiwa yang sama-sama besar. Tragedi Hillsborough mengakibatkan 96 orang meninggal dunia (belakangan bertambah jadi 97 orang), sementara tragedi Kanjuruhan menyebabkan lebih dari 130 orang meninggal dunia.
David Conn, jurnalis investigatif sepak bola Inggris dan penulis empat buku soal ekonomi sepak bola, dalam akun twitternya, Minggu (2/10/2022), mengaku syok dengan kejadian itu. Ia menyebut kesalahan manajemen pengamanan pertandingan menghadirkan risiko bencana.
Hal serupa juga terjadi di Inggris pada kejadian Hillsborough. Namun Conn menyebutkan adanya perbedaan penanganan pasca kejadian dua tragedi tersebut. Menurutnya, di Indonesia, narasi awal soal kerusuhan yang menyebabkan bencana tersebut digantikan dengan sangat cepat oleh penetapan tersangka dari kepolisian dan panitia pelaksana. “Di Inggris butuh waktu 27 tahun untuk menaklukkan kebohongan Hillsborough dan kemudian penuntutan gagal,” katanya, dalam cuitannya, 7 Oktober 2022.
Tragedi Hillsborough terjadi saat pertandingan semifinal Piala FA antara Liverpool dengan Nottingham Forest. Hari itu ada 1.122 petugas kepolisian yang berjaga dengan 54 ribu penonton yang datang ke stadion. Ribuan fans Liverpool yang datang dengan mobil dan bus mini menjalani pemeriksaan ketat. Bar-bar setuju tutup agar tak ada minuman beralkohol yang ditenggak fans sebelum pertandingan. Andaikata ada bar yang buka, mereka tak melayani suporter sepak bola.
Tak ada gejolak saat fans Liverpool datang. Menurut Phil Scraton, ‘An inspector commented that there were ‘no problems, not a lot of fans about’ and those at the ground were ‘all in good spirits’. The overall mood, according to another officer, was ‘happy with many of the fans joking with us’: a ‘good humoured’ atmosphere, ‘without problems’.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kericuhan-laga-arema-vs-persebaya”]
Namun polisi tak mengantisipasi terjadinya penumpukan fans Liverpool di area tribun Leppings Lane Bridge, di Stadion Hillsborough. Tribun itu hanya berkapasitas 4.500 penonton berdiri. Namun terjadi penumpukan massa melebihi kapasitas tribun. Saat tribun sudah penuh, aliran penonton dari luar stadion yang ingin masuk masih belum berhenti.
Kepanikan pun terjadi. Sebagian fans Liverpool memilih memanjat tembok tribun atas, karena tribun bawah sudah penuh sesak. Sebagian lainnya memanjat pagar kawat untuk meloloskan diri. Namun lebih banyak lagi yang tak bisa bergerak karena terjepit. Penonton dekat pagar pun tergencet. Kegembiraan berubah menjadi kengerian. Orang-orang kehabisan napas.
Penonton yang berhasil keluar dari tribun memilih berlari ke tengah lapangan. Sebagian bergelimpangan. Ambulans datang. Begitu banyaknya korban membuat sebagian ditandu dengan papan reklame yang terpasang di tepi lapangan. Pertandingan yang baru berjalan enam menit pun dihentikan.
Hari itu, 96 orang meninggal dunia (satu korban lagi meninggal beberapa tahun kemudian). Jumlah korban meninggal ini terbesar di Inggris, mengalahkan insiden kebakaran di Stadion Bradford yang memakan korban jiwa 55 orang. Tabloid The Sun dan beberapa koran kuning dengan sembrono menuduh fans Liverpool biang tragedi itu. Otoritas keamanan berdalih situasi penuh sesak di tribun dipicu kelompok pendukung Liverpool yang mabuk yang memaksakan diri merangsek masuk stadion.
Merasa jadi kambing hitam, keluarga korban Hillsborough melakukan investigasi mandiri dan menuntut pertanggungjawaban pemerintah dan otoritas kepolisian. Mereka membentuk paguyuban Hillsborough Family Support Group dan meluncurkan The Hillsborough Justice Campaign (HJC). Kampanye keadilan untuk korban Hillsborough.
Menurut Scraton, tragedi Hillsborough membongkar sekian kelemahan penanganan kerumunan massa oleh petugas kepolisian. Juga kelemahan fasilitas medis, perencanaan, maupun cara menghadapi situasi tanggap darurat. Pemerintah pun didesak menyelidiki siapa yang bertanggung jawab terhadap kematian puluhan orang pendukung Liverpool itu yang sebagian masih anak-anak.
Independent Police Complaints Commission atau Komisi Pengaduan Kepolisian Independen menyelidiki dua ribu orang petugas yang berasal dari 30 kesatuan kepolisian. Sementara itu sebuah panel independen yang dipimpin Lord Justice Taylor bekerja untuk menyelidiki sekaligus memberi rekomendasi kepada Margareth Thatcher. Taylor dengan tegas menyatakan bekerja untuk menemukan fakta. Bukan menyalahkan dan mencari kambing hitam.
Dari sana terungkap sejumlah fakta. Salah satunya adalah ketidaklayakan stadion. Safety of Sports Grounds Act atau Undang-Undang Keselamatan Lapangan Olahraga Tahun 1975 di Inggris, mensyaratkan setiap stadion yang memiliki kapasitas lebih dari 10 ribu penonton harus punya safety certificate atau sertifikat keselamatan. Sertifikat ini merupakan tanggung jawab otoritas setempat.
Sertifikat keselamatan Stadion Hillsborough tak pernah diperbarui sejak 1979. Padahal pada rentang waktu 1978-1988, stadion itu mengalami beberapa kali renovasi dan modifikasi struktur bangunan. Celakanya, berdasarkan hasil penelusuran Lord Justice Taylor, Sheffield City Council yang bertanggungjawab terhadap penerbitan sertifikat keselamatan tersebut justru abai. Renovasi stadion seharusnya memperhatikan perbaruan sertifikat tersebut.
Ketidaklayakan Stadion Hillsborough sebenarnya pernah dikeluhkan suporter Liverpool kepada manajemen klub. Bukan sekali dua kali mereka nonton pertandingan tandang Liverpool di sana. Peter Robinson, CEO Liverpool waktu itu, menelepon Organisasi Sepak Bola Inggris FA untuk meminta pemindahan lokasi semifinal ke Old Trafford. Permohonan itu tidak dikabulkan. Belakangan FA disalahkan karena tidak berkonsultasi lebih dulu dengan Sheffield City Council atai klub Sheffield Wednesday saat menentukan lokasi pertandingan semifinal.
Sheffield Wednesday sebagai pemilik stadion Hillsborough sebenarnya mendapat dana segar 430 ribu poun dari lembaga Football Trust untuk melaksanakan 21 proyek keamanan diri dan 595 ribu poun untuk memperbaiki tribun Spion Kop. Namun klub tersebut menolak perbaikan tribun khusus untuk suporter tim tamu karena mungkin terlalu mahal.
Hasil investigasi Lord Justice Taylor menegaskan tidak ada tindakan hooliganisme dalam insiden Hillsborough. Publik pun menanti bagaimana pemerintah menanggapinya. Polisi dianggap terlalu asyik dengan narasi ancaman hooliganisme dan bertanggungjawab terhadap insiden di Hillsborough. Temuan Lord Justice Taylor ini mengguncang politik Inggris, karena sebelumnya ada narasi yang menumpahkan semua kesalahan terhadap suporter Liverpool.
Lord Justice Taylor merekomendasikan reformasi besar-besaran sepak bola Inggris. Namun rekomendasi tersebut belum memenuhi tuntutan keadilan keluarga korban. Siapa yang bertanggung jawab atas tragedi itu? Butuh waktu puluhan tahun untuk menjawab ini. Menjaga api tuntutan keadilan itu, setiap tahun ada seremoni memperingati peristiwa kelam tersebut di Anfield. Salah satu tokoh gerakan menuntut keadilan ini adalah Anne Williams,yang kehilangan putranya di Hillsborough.
Momentum kebenaran terungkap setelah Hillsborough Independent Panel melakukan analisis terhadap 450 ribu dokumen selama dua tahun dan mengumumkan hasilnya di Chapel of Our Lady di Katedral Anglikan Liverpool, 12 September 2012. Mengejutkan: tragedi ini pada akhirnya juga berurusan dengan politik.
Adrian Tempany dalam buku And The Sun Shines Now menyebut adanya kerja sama antara anggota Partai Konservatif dengan polisi yang meletakkan material sebelum dilakukkan pemeriksaan asli koroner. Ada pula politisi Partai Konservatif yang menyuplai kebohongan untuk disiarkan pers soal perilaku suporter Liverpool. Semua disiapkan untuk memperkuat narasi bahwa tragedi Hillsborough diakibatkan ulah suporter Liverpool yang mabuk.
Hasil investigasi Hillsborough Independent Panel membuat Kepala Kepolisian South Yorkshire, David Crompton, meminta maaf. Dia menyebut telah terjadi kebohongan memalukan yang menyebabkan rasa sakit selama 23 tahun. “Disgraceful lies were told which blamed the Liverpool fans for the disaster. These actions have caused untold pain and distress for over 23 years. I am profoundly sorry for the way the force failed,” katanya, dikutip oleh Tempany.
Sidang gugatan baru kemudian digelar. Hasilnya, pada 26 April 2016, enam juri perempuan dan tiga juri lelaki di Warrington menyatakan bahwa 96 penggemar sepak bola yang meninggal di Hillsborough telah mengalami ‘unlawfully killed’ atau ‘terbunuh secara tak sah’. Tragedi Hillsborough terjadi karena kesalahan kepolisian Yorkshire Selatan, klub Sheffield Wednesday sebagai pemilik stadion, insinyur renovasi stadion, layanan ambulans South Yorkshire Metropolitan, dan otoritas perizinan.
Saat ini, proses penegakan hukum tragedi Kanjuruhan masih berlangsung. Tim investigasi dibentuk pemerintah Indonesia. Sementara itu Presiden Joko Widodo berkomunikasi dengan FIFA untuk mereformasi sepak bola Indonesia agar lebih layak dan memperhatikan aspek keselamatan pada hari pertandingan. Semua pihak berharap selain ada hukuman bagi mereka yang bertanggung jawab atas kejadian di Kanjuruhan, tragedi ini bisa mengubah wajah sepak bola Indonesia secara radikal.
Di Inggris, rekomendasi Lord Justice Taylor menegaskan: klub wajib menjaga keselamatan penonton. Ia juga merekomendasikan setiap stadion sepak bola level kompetisi pertama dan kedua di Inggris harus memiliki tempat duduk dan tak ada lagi tribun berdiri. Posisi berdiri memang lebih mudah memancing penonton lebih agresif daripada duduk. Selain itu, tempat duduk lebih mempermudah pemantauan terhadap penonton dan penentuan kapasitas maksimal stadion lebih akurat.
Taylor merekomendasikan, penurunan pajak klub-klub sepak bola dari 42,5 persen menjadi 40 persen, dengan kompensasi pemasangan kursi di semua tribun. Selain itu, ia meminta kepada otoritas sepak bila Inggris untuk meningkatkan harga penjualan hak siar televisi. Hasil penjualan tersebut digunakan untuk merenovasi stadion agar lebih layak.
Perubahan dari tribun berdiri menjadi berkursi sempat ditentang suporter Inggris. Mereka menganggap perubahan tersebut akan membuat harga tiket makin mahal. Legislator oposisi pun menentang dengan alasan yang sama. “Apakah sepak bola telah menjadi permainan orang kaya?” kata Roy Hughes, salah satu anggota parlemen.
Pemerintah Inggris jalan terus. Mereka juga menyiapkan Undang-Undang Penonton Sepak Bola atau Football Spectators Bill. Kebijakan politik ini mengiringi perubahan wajah sepak bola Inggris pada dekace 1990-an. Satu demi satu tribun berdiri diruntuhkan diganti all seater, termasuk tribun berdiri legendaris Stadion Anfield, Liverpool pada 1994.
Perubahan paling signifikan adalah pemisahan klub-klub besar dari English Football League dan mendirikan Liga Primer. Seperti menafsirkan rekomendasi Taylor, sepak bola menjadi industri dan televisi menjadi kunci. Fans bukan lagi suporter melainkan customer. Fanatisme akhirnya dimanajemen dalam konteks bisnis sepak bola dan bukan lagi berada dalam kerangka kekerasan. [wir/kun]






