Slank dan Megawati Soekarnoputri adalah kombinasi dua tradisi perlawanan yang tumbuh berkembang di sela-sela sejarah represi republik ini. Masing-masing menempati bab tersendiri dalam buku besar pergerakan kelas menengah dan akar rumput.
Megawati pernah berdiri di barisan terdepan, memimpin sebuah massa partai yang coba dirontokkan dengan popor senapan dan sepatu boot oleh rezim Orde Baru. Dia pernah berada pada episode genting negara ini, saat represi Soeharto terhadap gerakan prodemokrasi meningkat, dan di kemudian hari, kita tahu bagaimana pada akhirnya sebuah rezim runtuh.
Sementara Slank adalah sebuah kelompok musik rock yang berdiri pada 1983 dan menyuarakan pemberontakan dan protes terhadap ketertindasan. Budi Setiyono dalam reportasenya untuk Majalah Pantau pada 2002 menyebut ‘Lagu mereka mencerminkan pemikiran dan ketegasan sikap hidup, yang terbilang baru untuk ukuran anak muda Indonesia di masa Orde Baru’.
Abdi Negara Nurdin, gitaris Slank, tak menampik jika grup itu berpolitik. “Kami memang selalu berpolitik lewat lagu,” katanya.
Mega di podium dan Slank di atas panggung. Keduanya berhasil menghipnotis massa dengan cara masing-masing. Teriakan ‘merdeka’ Mega bersambut sama gempitanya dengan teriakan ‘piss (dari kata peace)’ Kaka, vokalis Slank. ‘Merdeka’ dan ‘Piss’ tak hanya menjadi slogan, tapi juga sikap hidup dan, bahkan ideologi, yang membumi menjadi kesadaran massa.
Kedamaian dan kemerdekaan adalah dua hal yang bertautan menjadi esensi dan cita-cita demokrasi. Rigoberta Menchú, seorang aktivis hak asasi manusia, pernah menyerukan: ‘Damai takkan hadir tanpa keadilan, keadilan takkan ada tanpa kesetaraan, kesetaraan takkan ada tampa pembangunan, pembangunan takkan ada tanpa demokrasi, dan demokrasi tidak akan ada tanpa penghormatan terhadap identitas dan nilai budaya serta masyarakat’.
Pemilu 2014, Slank dan Megawati menemukan wajah harapan baru terhadap cita-cita demokrasi pada sosok Joko Widodo. PDI Perjuangan mencalonkan duet Jokowi – Jusuf Kalla dalam sebuah pemilihan presiden, dan Slank membantu pengorganisasian ikhtiar pemenangan bernama konser musik ‘Salam Dua Jari’ yang menghadirkan puluhan ribu orang di Senayan.
“Kita ingin capres yang bisa memberi harapan ke depan, harapan yang menenangkan hati, bukan harapan dengan cara-cara agresif yang memancing konflik,” kata Abdi, sebagaimana dilansir Tempo, Senin (2/6/2014).
Tragis. Satu dekade kemudian harapan ini dikubur sendiri oleh Jokowi dengan merestui pencalonan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, menjadi wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto. Pria asal Solo, Jawa Tengah, itu melakukan apa yang tidak pernah dilakukan presiden-presiden Indonesia sebelumnya, bahkan tidak pula dilakukan Soeharto yang menjadi personifikasi seorang diktator.
Jokowi mengambil langkah sebagaimana dikhawatirkan Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam buku How Democracies Die. Dia tidak memukul demokrasi dengan represi dan kekerasan. Alih-alih demikian, dia melakukannya melalui jalur-jalur yang terlihat konstitusional, sehingga masyarakat awam pun mengabaikannya.
“Each individual step seems minor—none appears to truly threaten democracy. Indeed, government moves to subvert democracy frequently enjoy a veneer of legality: They are approved by parliament or ruled constitutional by the supreme court. Many of them are adopted under the guise of pursuing some legitimate—even laudable—public objective.”
Sejumlah kalangan mulai cemas, demokrasi di Indonesia tengah menuju pemakamannya sendiri. Setelah Komisi Pemberantasan Korupsi dilemahkan melalui revisi undang-undang, kini mereka melihat awan gelap tengah berarak di atas gedung Mahkamah Konstitusi.
Levitsky dan Ziblatt mengatakan, di negara demokrasi, sistem hukum, penegak hukum, badan intelijen, badan pajak, dan badan regulator dirancang untuk berperan sebagai pemberi putusan netral yang independen. Namun jika lembaga-lembaga ini sudah ditekuk, maka mereka bisa melindungi tindakan-tindakan presiden yang bertentangan dengan hukum.
“If they remain independent, they might expose and punish government abuse… But if these agencies are controlled by loyalists, they could serve a would-be dictator’s aims…The president may break the law, threaten citizens’ rights, and even violate the constitution without having to worry that such abuse will be investigated or censored.”
Rasionalisasi dilakukan secara kolektif oleh petinggi-petinggi partai dengan bahasa hukum dan politik untuk melegalkan cara Gibran maju menjadi calon wakil presiden. Rasionalisasi itu terus-menerus dikampanyekan hingga dimaklumi publik. Survei-survei dilakukan, mempertegas opini bahwa Gibran sudah diterima. Terakhir sejumlah survei elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran sudah mencapai 45 persen lebih.
Namun tentu saja tidak semua kesadaran orang bisa ditaklukkan. Indonesia pernah beberapa kali mengalami krisis demokrasi, dan selalu bisa bangkit kembali.
Bung Hatta dalam ‘Demokrasi Kita‘ yang diterbitkan Majalah Pandji Masjarakat pada 1960-an menulis dengan terang-benderang: ‘Demokrasi bisa tertindas sementara, karena kesalahannya sendiri, tetapi ia telah mengalami cobaan demikian pahit. Demokrasi akan muncul kembali dengan penuh kesadaran’.
Bung Hatta menekankan demokrasi sebagai bagian dari hidup bangsa Indonesia. ‘Berlainan dengan beberapa negara lain di Asia, demokrasi di sini berurat akar di dalam pergaulan hidup. Sebab itu ia tidak dapat dilenyapkan begitu saja untuk selama-lamanya’.
Dan enam dasawarsa kemudian, di depan para jurnalis yang meriung di Potlot Studio, Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu (20/1/2024), Abdi menegaskan, cita-cita slank sejak 2014 tidak pernah bergeser. “Korupsi, nepotisme, korupsi harus dihilangkan. Terus kita harus menjaga demokrasi,” katanya.
Mereka kemudian memilih untuk bergabung dalam upaya pemenangan Ganjar Pranowo – Mahfud MD. Dan di bawah langit abu-abu Lapangan Tegallega, Bandung, Minggu (21/1/2024), lima penggawa Slank berdiri bersama Megawati menyanyikan ‘Orkes Patah Hati‘.
Dari atas panggung berkarpet merah, mereka menghidupkan apa yang selama sepuluh tahun ini tenggelam di bawah kekaguman buta terhadap Jokowi: keberanian. ”Saya ingin mengajak semua pihak untuk bersikap tegas terhadap intimidasi dan memastikan bahwa kebenaran dan transparansi menjadi landasan utama dalam kepemimpinan,” kata Mega.
Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim, pemimpin dan tukang tabuh drum Slank, mendefinisikan ikhtiar perjuangan mereka sebagai sebuah revolusi. Revolusi Cinta. Ia tidak menjelaskan tafsirnya lebih jauh. Namun ia sepertinya tengah menggemakan pentingnya cinta dalam revolusi sejati sebagaimana dikatakan revolusoner Kuba yang mari ditembak tentara Amerika, Che Guevara.
The true revolutionary is guided by a great feeling of love. It is impossible to think of a genuine revolutionary lacking this quality.
Merdeka.
Piss. [wir]






