Jember (beritajatim.com) – Bupati Jember, Hendy Siswanto pernah iseng-iseng memantau kebiasaan warga Kabupaten Jember, Jawa Timur, membuang sampah ke sungai. Dari sini, ia menyadari, penanganan sampah menyeluruh tak ada artinya tanpa perubahan kultur masyarakat.
Saat itu, Hendy iseng-iseng menghentikan mobilnya di dekat jembatan di kawasan Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates. “Saya tunggu. Begitu ada yang datang mau membuang sampah ke sungai, saya buka pintu, saya sapa: ‘Mau ke mana, Bapak?'” katanya, ditulis Senin (20/2/2023).
Begitu melihat yang memergoki adalah orang nomor satu Jember, warga tersebut langsung kabur. “Jadi masih seperti itu. Sembunyi-sembunyi, tolah-toleh. Pinternya, sampah yang dibuang (ke sungai) sudah dipilah dengan sampah yang harus dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir),” kata Hendy.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-jember”]
Hendy mengakui, mengubah kultur masyarakat tak mudah. Salah satu caranya adalah dengan memberikan sanksi terhadap warga yang membuang sampah sembarangan dan tak mengelola sampah dengan benar. “Ini untuk memaksa mengubah kultur masyarakat,” katanya.
Perubahan kultur ini memerlukan kolaborasi pentaheliks, yang melibatkan semua pihak, termasuk akademisi dan swasta. “Itu harus kita kemas dengan bagus,” katanya.
Sementara itu, untuk pengelolaan sampah, ada dua opsi yakni melalui badan usaha, yakni badan usaha milik daerah dan badan usaha milik swasta. Pembentukan badan usaha milik daerah (BUMD) yang khusus menangani sampah di Kabupaten Jember bisa saja diwujudkan dan berpotensi menambah pendapatan asli daerah.
Namun Hendy cenderung untuk menggandeng swasta untuk mengelola sampah bersama 86 bank sampah yang sudah ada. Pengelolaan sampah ini diawali dengan klasterisasi tingkat rukun tetangga dan rukun warga.
Pengelolaan sampah ini juga harus memperhatikan banyak aspek. Bukan hanya masalah kebersihan, tapi juga ketenagakerjaan. Bupati Hendy mengatakan, Pemerintah Kabupaten Jember bisa saja mendatangkan alat atau teknologi otomatis agar pengelolaan sampah lebih efektif dan efisien. “Tapi di situ akan ada orang yang kehilangan pekerjaan. Ini problem. Bagaimana kita menyelesaikan masalah tanpa masalah,” katanya.
Pemakaian teknologi bisa dilakukan di daerah-daerah tertentu, seperti kawasan pemukiman elite maupun kawasan dalam kampus. “Sekalian jadi wisata edukasi pengelolaan sampah,” kata Hendy. [wir/kun]






