Surabaya (beritajatim.com) — Gemuruh energi baru menyertai datangnya Tahun Baru Imlek 2026. Dalam penanggalan Tionghoa, tahun ini dikenal sebagai Tahun Kuda Api—sebuah simbol tentang kecepatan, keberanian, dan semangat yang membara untuk terus bergerak maju.
“躍馬迎福,駿騰迎祥 (Yuè mǎ yíng fú, jùn téng yíng xiáng). Kuda yang berlari kencang menandakan keberuntungan; kuda yang cepat menandai masa depan yang baik,” ujar Olivia, Dosen Bahasa Mandarin di , Surabaya.
Menurutnya, unsur api dalam filosofi Tionghoa kerap dimaknai sebagai “旺盛” (wàng shèng) atau energi yang berkembang pesat—melambangkan kemakmuran, vitalitas, serta semangat yang menyala. Sementara kuda, sejak lama, diasosiasikan dengan kecepatan dan ketangguhan.
“Pesannya sangat jelas. Tahun ini adalah waktu bagi kita untuk berpacu dengan waktu, menyelesaikan urusan yang tertunda, dan melangkah maju dengan akselerasi tinggi,” kata Olivia.
Namun, di balik semarak perayaan, Imlek sejatinya menyimpan makna yang lebih dalam. Ia bukan sekadar pesta budaya, melainkan momentum refleksi dan pembaruan diri. Esensinya terletak pada upaya memperbaiki relasi: hubungan dengan Langit (天, tiān), hubungan dengan Bumi (地, dì), serta hubungan dengan sesama manusia (人, rén).
Konsep keharmonisan ini dikenal sebagai 天时地利人和 (tiānshí dìlì rén hé)—waktu yang tepat, tempat yang menguntungkan, dan hubungan yang selaras. Ketiganya diyakini menjadi fondasi penting untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan.
Imlek juga identik dengan suasana hangat: barongsai yang menari, lampion merah yang bergantungan, serta tradisi berbagi angpao (红包, hóngbāo). Namun lebih dari itu, Imlek merupakan sebuah titik balik. Secara harfiah, perayaan ini menandai berakhirnya musim dingin menuju awal musim semi—sebuah metafora tentang meninggalkan yang lama dan menyambut yang baru.
Seperti halnya Idul Fitri bagi umat Muslim atau pergantian Tahun Baru Masehi, Imlek menjadi momen transisi: menutup lembaran lama, membuka babak baru, dan menata kembali niat hidup.
Olivia menegaskan, Imlek dapat dirayakan oleh siapa saja yang memiliki akar tradisi Tionghoa, tanpa memandang keyakinan. “Ini adalah momen keluarga besar untuk berkumpul bersama, menyambut pergantian musim,” ujarnya.
Salah satu tradisi yang sarat makna adalah bersih-bersih rumah sebelum hari-H. Bukan semata soal kebersihan, melainkan simbol membuang kesialan dan keburukan tahun lalu. “Begitu hari Imlek tiba, sapu harus diletakkan. Kita berhenti bekerja, berhenti membersihkan, dan fokus sepenuhnya untuk merayakan kebersamaan,” jelas Olivia.
Simbolisme juga hadir lewat hidangan khas. Kue keranjang atau Nián Gāo (年糕), misalnya, memiliki permainan bunyi dengan kata 高 (gāo) yang berarti “tinggi”. Maknanya, harapan agar hidup di tahun baru terus meningkat—baik dari sisi rezeki maupun kualitas hidup.
Ikan pun menjadi menu wajib. Dalam pelafalan Mandarin, ikan (鱼, yú) terdengar mirip dengan 余 (yú) yang berarti “kelebihan”. “Harapannya sederhana namun kuat, agar setiap tahun kita tidak hanya berkecukupan, tetapi selalu memiliki kelebihan rezeki untuk dibagikan,” tutur Olivia.
Ada pula mitos menarik: mengapa Imlek sering identik dengan hujan? Secara ilmiah, di Tiongkok Imlek bertepatan dengan peralihan salju yang mencair menjadi hujan di awal musim semi. Sementara di Indonesia, Imlek jatuh pada puncak musim penghujan.
Bagi masyarakat Tionghoa, hujan justru dimaknai sebagai simbol “banjir rezeki”. Alih-alih dikeluhkan, ia disambut dengan rasa syukur sebagai energi positif yang turun dari langit.
Di tengah derasnya hujan dan hangatnya cahaya lampion, Tahun Kuda Api seakan mengajak kita semua untuk bergerak lebih cepat, namun tetap berpijak pada harmoni. Sebuah pengingat lembut bahwa setiap awal selalu membawa harapan—asal kita berani melangkah. (fyi/but)






