Surabaya (beritajatim.com) – Salah satu ungkapan yang tidak asing bagi umat Islam dan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari ialah “Tabarakallah”.
Dalam Bahasa Arab, ungkapan ini memiliki makna “Maha Suci Allah”. Penggunaan Tabarakallah seringkali diiringi oleh ungkapan Masyaallah sebagai bentuk pujian kepada Allah SWT.
Dalam ajaran Islam, mengucapkan kata-kata yang baik dan penuh kebaikan merupakan perintah Allah SWT, sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 83. Ungkapan Tabarakallah juga termasuk dalam kategori ini, karena mengandung doa kebaikan dan pujian kepada Allah SWT.
Arti Tabarakallah sering kali digunakan dalam konteks mengagumi keindahan, mensyukuri nikmat, atau mengungkapkan rasa kagum terhadap keberkahan yang ada. Ungkapan ini muncul pada sejumlah ayat Al-Qur’an, seperti surah Al-A’raf ayat 54 dan surah Ar-Rahman ayat 78, yang mengandung makna pujian kepada Allah atas keagungan-Nya.
Ungkapan Tabarakallah juga bisa digunakan sebagai alternatif doa untuk menjauhkan rasa iri dan dengki. Hal ini berkaitan dengan konsep “ain,” yakni pandangan mata yang jahat yang bisa timbul dari perasaan dengki seseorang.
BACA JUGA: Minta Maaf, Umar Patek Berharap Keringanan Saat Yaumul Hisab
Dalam konteks ini, mengucapkan Tabarakallah atau Masyaallah Tabarakallah adalah cara untuk mendoakan keberkahan atas apa yang dilihat dan menghindari perasaan negatif.
Apabila seseorang mendapat ungkapan Tabarakallah dari orang lain, sebaiknya ia menjawab dengan perkataan yang baik. Beberapa jawaban yang umum digunakan ialah “Jazakallah khair” artinya, “Semoga Allah memberimu balasan yang baik.” Ini merupakan doa untuk memohon balasan kebaikan dari Allah atas pujian atau doa yang diucapkan.
Sedangkan “Barakallahu fikum”, memiliki artian, “Semoga Allah memberkahimu.” Ini juga mengandung doa untuk mendapatkan berkah dari Allah atas pujian atau doa yang diucapkan.
Dengan demikian, Tabarakallah adalah ungkapan yang mengandung makna pujian dan kebaikan terhadap Allah SWT serta digunakan dalam berbagai konteks, seperti mengagumi keindahan, mensyukuri nikmat, atau menjauhkan rasa iri. (fyi/nap)






