Pasuruan (beritajatim.com) — Tebon jagung yang selama ini dianggap limbah pascapanen, kini disulap menjadi pakan ternak alternatif bernilai guna oleh tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Inovasi ini lahir melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) berdampak yang berkolaborasi dengan Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) dan didukung Program P2MW. Pendanaan diperoleh dari Kemdiktisaintek 2025.
Program ini dirancang untuk memberi solusi nyata bagi peternak kecil, dengan memanfaatkan potensi lokal yang selama ini terbuang percuma. Tebon jagung pascapanen diolah menjadi silase, lalu dikembangkan lebih lanjut menjadi pelet pakan ternak. Selain membantu peternak, inovasi ini juga mendukung pengurangan limbah agro di pedesaan.

Inovasi dari Desa untuk Desa
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa Umsida bersama peternak setempat memulai eksperimen fermentasi silase berbahan dasar tebon jagung. Bahan tersebut dicampur dengan molase/tetes tebu dan polar (1 sak), lalu difermentasi selama 6–15 hari. Hasil fermentasi diuji pada kambing sebagai tahap awal sebelum diformulasikan menjadi pelet.
Proses produksi menghasilkan 3–4 sak cacahan tebon per sesi. Setelah diolah menjadi pelet, tiap sak bisa menghasilkan 1–3 kilogram, tergantung racikan serta proses pengeringan. Uji awal menunjukkan respons positif pada hewan ternak.
“Kami mencoba beberapa komposisi sampai menemukan formula yang pas untuk ternak,” ungkap Yusril, salah satu anggota tim.
Rencana Mesin Pencacah–Pelet 2-in-1
Tak hanya fokus pada pakan, tim mahasiswa teknik mesin Umsida juga tengah merancang mesin pencacah dan pelet 2-in-1. Mesin ini diharapkan memudahkan peternak kecil memproduksi pakan secara mandiri dan efisien.
Namun, integrasi mesin masih terkendala ketersediaan suku cadang. Untuk sementara, pencacahan dan pembuatan pelet dilakukan dengan dua mesin terpisah. Meski begitu, tim tetap optimistis proyek akan rampung begitu sparepart terpenuhi.
Manfaat Nyata bagi Masyarakat
Program ini membawa dampak langsung bagi warga desa. Peternak mendapat pakan alternatif dengan biaya lebih terjangkau, sementara desa berpotensi mengembangkan usaha baru jika produksi distandarisasi.
“Program PMM ini bukan hanya soal teknologi sederhana, melainkan tentang bagaimana mahasiswa menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat. Dengan dukungan Kemdiktisaintek 2025, kami optimis inovasi ini bisa berkembang menjadi solusi pakan murah, berkualitas, dan berkelanjutan,” ujar Akmal, Ketua Tim PMM Umsida.
Langkah ke Depan
Setelah uji awal, tim mahasiswa menyiapkan beberapa langkah lanjutan:
1. Melengkapi sparepart mesin untuk integrasi pencacah–pelet.
2. Melakukan uji coba lebih luas pada kambing dan hewan ternak lain.
3. Menyusun model bisnis mikro agar produksi pakan bisa berkelanjutan di tingkat desa.
Dengan sinergi KKN berdampak, PMM, P2MW, serta dukungan Kemdiktisaintek 2025, program ini menjadi bukti nyata peran mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat. Dari limbah tebon jagung, kini lahir pakan ternak bergizi sekaligus peluang ekonomi baru bagi petani dan peternak desa. [but]






