Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan tiga inovasi lingkungan untuk membantu pengelolaan limbah dan mendorong ekonomi desa. Program ini dilaksanakan di Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, sebagai bagian dari praktikum politik lingkungan yang berlangsung selama tiga bulan.
Puncak kegiatan berlangsung pada awal Juni 2025 lalu dengan pameran inovasi dan penandatanganan kerja sama antara UMM, Pemerintah Desa Kayu Kebek, dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam mendorong desa menjadi kawasan wisata berbasis lingkungan.
Tiga inovasi yang diperkenalkan mahasiswa UMM dalam program tersebut meliputi. Pertama, Smokeless Burn Barrel, teknologi pembakaran sampah tanpa asap yang ramah lingkungan.
Kedua, eco-enzyme dari limbah apel, produk ramah lingkungan hasil fermentasi limbah buah yang dapat digunakan sebagai cairan pembersih alami. Ketiga, lilin aromaterapi dari minyak jelantah: Upaya mendaur ulang minyak bekas menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Semua inovasi ini dirancang agar mudah diterapkan warga sekaligus memberikan manfaat langsung bagi lingkungan dan perekonomian lokal. Hasil karya mahasiswa dan warga ditampilkan dalam pameran terbuka yang mendapat apresiasi besar dari tamu undangan.
Asisten II Bupati Pasuruan, Bakti Jati Permana, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyatakan dukungan penuh terhadap program kolaboratif ini. Menurutnya, langkah mahasiswa UMM sangat membantu dalam mengelola limbah secara produktif.
“Inovasi yang dilakukan mahasiswa UMM sangat relevan dengan kebutuhan desa. Pemerintah daerah mendukung penuh upaya ini,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan, dilakukan penandatanganan prasasti pendopo desa sebagai simbol dimulainya kerja sama jangka panjang antara UMM dan Desa Kayu Kebek. Pemerintah Kabupaten Pasuruan menyambut positif kolaborasi ini sebagai bagian dari strategi pengembangan desa wisata ekologis.
Sementara itu, Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM, Dr. Salahudin, M.Si., M.P.A., menekankan bahwa kegiatan ini bukan hanya ajang praktik mahasiswa, tetapi juga kontribusi langsung bagi masyarakat.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memberikan solusi yang aplikatif. Praktikum ini adalah langkah konkret menuju pengembangan desa wisata berbasis lingkungan,” jelasnya.
Program ini merupakan bagian dari kurikulum akademik semester enam dan kini telah diakui secara resmi sebagai pengganti skripsi. Sebagai bentuk penghargaan, para mahasiswa peserta diberikan piagam atas kontribusinya dalam pengembangan desa.
Dengan pendekatan kolaboratif, inovatif, dan edukatif, mahasiswa UMM membuktikan bahwa perguruan tinggi dapat menjadi motor perubahan lingkungan dan sosial yang nyata di tingkat akar rumput. Program ini juga memperkuat peran pendidikan tinggi dalam membangun desa berkelanjutan di Indonesia. (dan/but)






