Surabaya (beritajatim.com) – Kebijakan Kemendikbud Ristek terkait Transformasi Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) saat ini tengah hangat diperbincangkan. Pasalnya, ada sejumlah perubahan, di antaranya tidak adanya tes mata pelajaran.
Selain itu, dalam transformasi seleksi masuk PTN tersebut tidak ada pembedaan antara jurusan IPA dan IPS. Sehingga, hal itu akan semakin membuka lebar peluang calon mahasiswa memilih jurusan di lintas jalur.
Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Mohammad Nasih mengatakan, bahwa peluang mahasiswa memilih lintas jurusan memang mungkin. Hanya saja probabilitasnya sangatlah kecil.
[berita-terkait number=”5″ tag=”unair”]
“Jadi kalau yang untuk lintas jurusan, sesungguhnya tetap mungkin, tapi probabilitasnya menjadi sangat kecil. Tadi saya sampaikan, mereka yang lintas jurusan itu, karena untuk bisa melanjutkan studi sesuai dengan minat mereka, itu diperlukan pengetahuan dasar dan teknis tertentu, itu sangat menjadi pertimbangan,” kata Nasih, Jumat (9/9/2022).
“Sehingga, mereka yang lintas jurusan itu sepertinya nanti masuknya kecil. Tapi ketika sudah masuk, peluang untuk DO (drop out)-nya menjadi sangat besar. Ini untuk warning aja bagi masyarakat,” imbuhnya.
Nasih menilai, jika lintas jurusan ini dibiarkan, maka sistem untuk merdeka belajar di tingkat SLTA, termasuk kurikulumnya, nanti juga akan sia-sia. Sebab, para siswa tidak memperdulikan dua mata pelajaran yang harus ditempuh untuk peminatan tersebut.
“Bagi kami di Unair, mempertimbangkan dan memberikan penghargaan prestasi mereka di SLTA sesuai minat mereka di perguruan tinggi, itu menjadi sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, probabilitas untuk mereka yang lintas jurusan itu tetap ada tapi peluangnya sangat-sangat kecil,” katanya. (ipl/kun)






