Pamekasan (beritajatim.com) – Beredar kabar seorang pesepakbola muda gagal bergabung bersama Madura United kategori U-20 karena diminta membayar uang Rp15 juta agar bisa ikut dalam ajang Elite Pro Academy (EPA) 2025. Informasi tersebut sempat ramai diperbincangkan di media sosial, disertai tangkapan layar percakapan antara pemain dengan pelatih yang memicu pro dan kontra.
Komisaris PT Polana Bola Madura Bersatu (PBMB), Zia Ul Haq Abdurrahim, membenarkan adanya biaya tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa dana yang dibayarkan siswa akademi memiliki kejelasan alokasi dan manfaat.
“Perlu digarisbawahi, biaya itu digunakan untuk keperluan apa dan bagaimana. Artinya hak dan kewajiban setiap siswa Akademi Madura United asuransinya sudah terjamin, semisal bila siswa mengalami cedera sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab dari klub,” kata Zia, Kamis (11/9/2025).
Ia menjelaskan, biaya yang dikenakan bervariasi, mulai Rp 10 juta untuk siswa lokal non mess, Rp15 juta untuk siswa lokal plus mess maupun murid non lokal non mess, hingga Rp20 juta untuk siswa non lokal dan mess.
“Selain itu kami juga menyediakan sekolah sepakbola di mess yang akan dibimbing langsung oleh pelatih berwawasan luas. Jadi setiap siswa tidak hanya diasah kemampuan dalam bermain sepakbola, tetapi juga kemampuan berpikir pada dunia sepak bola yang sangat luas,” ujarnya.
Zia menambahkan, pola pembiayaan ini sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu dan tetap diminati. “Untuk tahun ini sudah ada lebih dari 20 siswa yang mendaftar dan orang tua mereka menyetujui. Bahkan ini dibilang murah dengan fasilitas selama dia menjadi siswa academy dibanding dengan academy di klub lainnya yang harganya lebih jauh dari ini,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa biaya tersebut dituangkan sesuai prosedur resmi yang berlaku. “Jika ada miss informasi liar di luar terkait dikenakannya SPP dan lain-lain, itu tidak masuk ke klub, tetapi akan menjadi pelayanan terhadap siswa, termasuk kenyamanan selama menjadi siswa kami di Madura United Football Academy selama mengarungi kompetisi EPA 2025/2026,” pungkasnya. [pin/beq]






