Blitar (beritajatim.com) – Saat hujan turun, jalan Kali Brantas Kota Blitar menjadi licin dan dan berlumpur. Ya, sejak ada pembangunan proyek strategis nasional jalan Kali Brantas Kota Blitar memang menjadi berlumpur saat musim hujan tiba.
Proyek strategis nasionalnya tidak salah, namun tanah yang melekat pada kendaraan berat yang melintas jatuh di sepanjang jalan Kali Brantas. Imbasnya jalan menjadi berdebu saat kemarau dan penuh lumpur saat musim hujan.
Kondisi ini tidak hanya mengganggu estetika kota, tetapi menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas. Pada Kamis (30/04/2026), seorang pengendara motor dilaporkan terjatuh setelah tergelincir gumpalan lumpur yang menutupi aspal.
Warga dan pengguna jalan yang melintas setiap hari mengaku harus ekstra waspada. Persoalan di Jalan Kali Brantas ini seolah menjadi siklus penderitaan yang bergantung pada cuaca.
“Memang kondisinya sangat licin, apalagi kalau hujan begini. Debu-debu itu bercampur air jadi lumpur, ditambah truk-truk proyek yang terus berlalu lalang tanpa henti,” keluh Aziz, salah satu pengendara yang ditemui di lokasi.
Keresahan Aziz bukan tanpa alasan. Saat matahari terik, masalah tidak lantas hilang. Lumpur yang mengering berubah menjadi kepulan debu yang menyesakkan napas dan mengganggu jarak pandang pengendara, menciptakan risiko kecelakaan baru.
Menanggapi keluhan publik yang semakin kencang, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Blitar, Ronny Yoza Pasalbessy, memberikan pernyataan yang terkesan diplomatis sekaligus mengarahkan tanggung jawab ke pihak lain.
Saat dikonfirmasi, Ronny mengarahkan agar persoalan ini juga ditanyakan kepada Dinas Sosial, mengingat kaitannya dengan pembangunan Sekolah Rakyat.
“Tolong konfirmasi dengan Dinas Sosial. Yang berhubungan dengan pembangunan Sekolah Rakyat, tindak lanjut kita tunggu hasil koordinasi,” ungkap Ronny melalui pesan singkat.
Meski demikian, Ronny mengklaim bahwa pihak pelaksana proyek sebenarnya sudah melakukan upaya tindak lanjut di lapangan untuk mengatasi ceceran material tersebut. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sisa-sisa lumpur masih menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga.
“Dari pelaksana sudah tindak lanjuti,” tandasnya. (owi/ted)






