Magetan (beritajatim.com) – Hampir dua tahun istirahat menggung, kesenian ludruk tobongan di Desa Tunggur, Kecamatan Lembeyan, Magetan bingung. Para seniman banyak yang pulang kampung, yang tak punya biaya pulang menetap di Lapangan Tunggur, desa setempat.
“Sampai saat ini kan belum ada pelonggaran PPKM yang berpihak pada pelaku kesenian. Padahal, kami sudah divaksinasi juga, siap menjalankan kesenian sesuai protokol kesehatan,” terang Eka Sanjaya, Ketua Ludruk Tobongan Suromenggolo, Senin (10/1/2022).
Eka menyebut kalau bantuan sempat bergulir dari Polsek Lembeyan, berikut dengan bantuan dari Gubernur Jawa Timur yang disalurkan melalui Padepokan Seni Kirun (Padski) Madiun. Namun, bantuan tersebut tak bisa merata ke seluruh seniman. “Karena yang pas tidak ada di lapangan kan mungkin tidak dapat. Sebagian ada yang ngekos juga di sekitar Lembeyan. Tapi kan kasihan, pekerjaan tetap juga tak punya,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”seni”]
Terakhir, pihaknya sempat mengurus perizinan dari Polsek Lembeyan, Satgas Penanganan Covid-19, hingga Polres Magetan. Namun, sayangnya kemungkinan mereka pentas sudah mustahil karena pada Juli 2021 lalu diberlakukan PPKM Darurat. Meski kini Magetan sudah masuk level 2 dan dalam inmendagri 1/2022 kegiatan seni budaya sudah boleh diselenggarakan, pihaknya tak mendapatkan tembusan apa-apa. Eka bingung mau kembali mengurus perizinan dari mana. Dia kerap diping-pong mulai dari polsek setempat sampai polres.
“Dan sampai saat ini PPKM terus diperpanjang, kami harus bagaimana lagi, tapi ini bagaimana? Kami harus bekerja apa, padahal kami menggantungkan hidup kami hanya dari pertunjukan tersebut,” keluh Eka. (fiq/kun)






