Ponorogo (beritajatim.com) – Rumah milik Minten di Dukuh Duwet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, meledak hebat akibat aktivitas perakitan mercon dan balon udara yang dilakukan secara ilegal. Ledakan pada Senin (2/3/2026) tersebut mengakibatkan seorang pelajar SMP tewas dan dua pemuda lainnya mengalami luka berat.
Aktivitas perakitan bahan peledak di lokasi tersebut kerap melibatkan pemuda luar lingkungan meski warga sudah berulang kali memberikan teguran demi keselamatan. Masyarakat mengaku sangat khawatir karena rumah tersebut sering dijadikan tempat berkumpul untuk membuat petasan dalam skala besar.
Salah satu warga Desa Plosojenar, Bonari, menyebut peringatan dari masyarakat sebenarnya sudah sering disampaikan kepada penghuni rumah secara langsung. Namun, seluruh teguran agar menghentikan aktivitas berbahaya itu tidak pernah diindahkan oleh para pelaku hingga peristiwa nahas ini terjadi.
“Ini bukan sekali dua kali, sudah sering merakit mercon. Bukan lingkungan tidak peduli, tetapi ya istilahnya sinoman sudah menegur berkali-kali, tetapi tidak pernah digubris,” kata Bonari, Senin (2/3/2026).
Kediaman yang kini hancur total tersebut sehari-hari dihuni oleh Minten bersama kedua putranya, yakni korban berinisial RF dan kakaknya, Rio Effendi. Saat kejadian berlangsung, sejumlah pemuda dari luar wilayah diketahui tengah berada di dalam lokasi untuk membantu perakitan.
Dua korban lainnya yang mengalami luka serius diidentifikasi berinisial T, warga Desa Morosari, serta pemuda berinisial HA yang merupakan warga setempat. Bonari mengaku merasakan langsung getaran hebat karena posisi rumahnya berada tidak jauh dari titik pusat ledakan di Dukuh Duwet tersebut.
“Kan rumah saya cukup dekat, ledakannya itu bukan keras lagi, tetapi dahsyat, suaranya keras banget. Ya korban yang langsung meninggal ya yang paling kecil, masih kelas 3 SMP dan pemuda yang dari Morosari itu mengalami luka berat, pasca kejadian langsung dilarikan ke rumah sakit,” ungkapnya.
Bonari sedang berada di teras rumah ketika suara dentuman menggelegar dan kepulan asap tebal mulai membumbung tinggi dari rumah Minten. Ia segera menuju lokasi dan mendapati kondisi atap bangunan sudah hancur berserakan akibat kekuatan ledakan bahan kimia tersebut.
Para korban diduga kuat sedang meracik bahan peledak sebagai persiapan untuk perayaan Lebaran mendatang. Status rumah tersebut di mata masyarakat sekitar memang telah lama dikenal sebagai pusat pembuatan petasan tradisional di wilayah Kecamatan Kauman.
“Di sini jadi markas jelang Lebaran untuk membuat mercon. Sudah sering diperingatkan, tetapi tidak digubris,” kata Bonari.
Kepala Dusun Duwet, Satria Yoga Winata, membenarkan bahwa rumah milik Minten memang sering menjadi lokasi berkumpulnya anak-anak muda. Satria menemukan kondisi rumah sudah hancur dan dipenuhi kerumunan warga saat dirinya hendak berangkat menuju area persawahan.
Dirinya mendapati dua pemuda menjadi korban utama dalam insiden ini, di mana salah satunya ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia. Penyelidikan lebih lanjut kini dilakukan oleh pihak kepolisian guna memastikan penyebab pasti serta jumlah bahan peledak yang disimpan di lokasi.
“Kayaknya mereka mau merakit mercon dan balon udara,” pungkasnya. [end/beq]






