Pacitan (beritajatim.com) – Kekurangan pasokan batu bara nasional yang diperkirakan mencapai 20 juta ton untuk kebutuhan pembangkit listrik PLN pada tahun 2026 turut menjadi perhatian.
Stok batu bara yang tersedia saat ini diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan operasional selama sekitar dua hari ke depan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, PLN NP Pacitan telah mempercepat kedatangan pasokan baru dari sejumlah pemasok.
“Untuk hari ini stok yang tersedia kurang lebih masih bertahan sekitar dua hari. Namun kami terus memaksimalkan pasokan batu bara agar operasional pembangkit tetap berjalan,” kata Asisten Manajer SDM, Umum, dan CSR PLN NP UP Pacitan, Risky Trilistirta, Sabtu (20/6/2026).
Ia menjelaskan, saat ini terdapat satu kapal yang sedang mengantre untuk proses bongkar muat di PLTU Pacitan. Selain itu, tiga kapal lainnya juga tengah dalam perjalanan menuju Pacitan dengan total muatan sekitar 70 ribu ton batu bara.
Dengan tambahan pasokan tersebut, PLN NP optimistis kebutuhan bahan bakar pembangkit dapat terpenuhi sehingga operasional PLTU tetap berjalan sesuai kebutuhan sistem kelistrikan Jawa-Bali.
“Kami sudah memiliki satu kapal yang antre dan tiga kapal dalam perjalanan. Total pasokan yang akan masuk kurang lebih mencapai 70 ribu ton,” jelasnya.
PLTU Pacitan sendiri menggunakan batu bara kategori menengah hingga low rank yang hingga kini masih dapat dipenuhi oleh para pemasok. Karena itu, perusahaan menilai kondisi pasokan masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan.
Meski tidak menutup kemungkinan adanya dampak dari persoalan pasokan batu bara secara nasional, PLN NP Pacitan terus melakukan berbagai langkah mitigasi untuk memastikan pembangkit tetap beroperasi secara optimal.
“Potensi terhambat mungkin ada, tetapi kami memaksimalkan bagaimana operasional tetap terjaga. Peralatan pembangkit juga tetap standby dan kami usahakan tidak ada gangguan yang signifikan,” tegas Risky. (tri/kun)






