Jember (beritajatim.com) – Saat ini luas lahan wakaf yang dimiliki Nahdlatul Ulama di seluruh Indonesia mencapai lima juta meter persegi. Lahan-lahan tersebut masih belum dimanfaatkan.
“Ini harus kami kelola untuk berbagai macam keperluan. Lima juta meter persegi ini belum dikelola,” kata Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Yahya Cholil Staquf, usai acara peletakan batu pertama Rumah Sakit NU, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (18/5/2022) sore.
Rencananya lahan tersebut akan dimanfaatkan untuk sejumlah kegiatan. Salah satunya kegiatan badan usaha milik NU (BUMNU), lembaga kesehatan seperti rumah sakit, dan lembaga pendidikan. Jember rencananya akan menjadi tempat untuk peluncuran perdana proyek percontohan BUMNU di Indonesia.
Saat ini, menurut Yahya, sudah ada puluhan rumah sakit milik NU yang dibangun di Indonesia. “Ada yang atas nama perkumpulan NU, ada yang dari jamaah lingkungan NU tapi belum atas nama perkumpulan. Sekarang sedang kami bangun sistem agar antara satu dengan yang lain terjalin konsolidasi manajemen jadi satu sistem nasional,” katanya.
PBNU tidak menargetkan jumlah rumah sakit yang akan dibangun. “Kami punya target membangun sistem nasional untuk rumah sakit yang ada dulu. Karena kalau tambahan, tidak usah ditarget. Ada terus dari cabang-cabang NU, maupun dari kalangan NU lain, dari pesantren, dari badan otonom, terus tidak berhenti-henti untuk membuat inisiatif membangun rumah sakit dan lembaga lain, termasuk lembaga pendidikan,” kata Yahya.
Salah satu rumah sakit NU akan dibangun di Jember tahun ini. Rumah sakit tersebut berdiri di atas tanah seluas kurang lebih lima ribu meter persegi. Dalam sambutannya, Yahya berharap, rumah sakit tersebut bisa segera terwujud dan bermanfaat untuk masyarakat.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pbnu”]
“Nahdlatul Ulama didirikan untuk tujuan-tujuan utama agama, untuk kepentingan agama. Mungkin waktu itu pada zaman hadratussyaikh dan para muasis, beliau-beliau saat mendirikan NU belum kepikiran mau mendirikan rumah sakit, sekolah, BUMNU (Badan Usaha Milik NU). Beliau-beliau ini inlander di bawah jajahan Hindia Belanda. Jadi belum kebayang,” katanya.
Berdasarkan salah satu survei, menurut Yahya, ada 50,5 persen dari 240 juta orang penduduk Indonesia yang mengaku NU. “Sekarang ini sekurang-kurangnya ada 120 juta warga yang mengaku pengikut Nahdlatul Ulama,” katanya.
Mereka mengharapkan banyak hal kepada NU. “Mengharapkan semua yang menyandang atribut NU bisa memberikan maslahat-maslahat yang optimal bagi mereka. Maka kita juga harus berikhtiar menyediakan layanan-layanan bagi kebutuhan warga Nahdlatul Ulama,” kata Yahya.
“Mudah-mudahan ikhtiar mendirikan rumah sakit ini tumbuh subur menjadi ikhtiar yang tepat memenuhi kebutuhan warga masyarakat. Bukan hanya warga NU saja, tapi warga masyarakat lebih luas, yang ini nanti kalau kita jalankan sebaik-baiknya, tentu akan membantu beban di pundak pemerintah,” kata Yahya. [wir/suf]






