Surabaya (beritajatim.com) – Kompetisi Liga 2 Indonesia dipastikan akan menggunakan teknologi Video Assistant Referee (VAR) secara penuh mulai musim 2025 yang bergulir Agustus mendatang.
Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Ferry Paulus.
“Pakai VAR full. Confirm,” ucap Ferry, Rabu (7/5/2025) di Jakarta.
Sebelumnya, VAR telah diujicobakan di Liga 2 pada musim 2024/2025 saat laga perebutan tempat ketiga antara Persijap Jepara melawan PSPS, serta pertandingan final antara PSIM Yogyakarta dan Bhayangkara FC. Keberhasilan penggunaan teknologi ini membuka jalan untuk penerapan penuh pada musim kompetisi selanjutnya.
Menurut Ferry, PT LIB telah mempersiapkan segala kebutuhan teknis maupun sumber daya manusia demi kelancaran penggunaan VAR di Liga 2. Dari sisi perangkat, perangkat simulator latihan VAR sudah tersedia. Di sisi SDM, para wasit telah melewati proses seleksi, pendidikan, dan pengayaan kemampuan oleh komite wasit.
“Ya ini sudah. Wasitnya sudah dilakukan oleh komite wasit dalam proses seleksi, kemudian pengayaan, pendidikan, dan sebagainya. Kemudian VAR-nya sendiri juga sudah on the way. Bahkan simulator untuk latihan dan sebagainya sudah datang. Ya, berbeda dengan yang Hawk-Eye,” imbuh Ferry.
Namun, Ferry mengungkapkan bahwa masih ada tantangan infrastruktur di tingkat klub. Dari total 30 klub peserta Liga 2, terdapat tiga klub yang belum memenuhi standar penggunaan VAR karena tidak memiliki stadion yang memadai.
“Kemudian klubnya sendiri juga, kalua lihat dari infrastruktur, sebagian besar sudah sangat bersyarat. Hanya tinggal tiga klub saja yang masih. Ini masih hangat lah. Yang belum punya betul-betul stadion itu cuma tiga klub yang di Liga 2,” tambah dia.
Kompetisi Liga 2 musim 2025 juga akan mengalami perubahan format. Jumlah peserta dikurangi menjadi 20 tim dari sebelumnya 26. Musim ini yang terbagi dalam tiga grup, musim depan akan disusun menjadi dua grup, masing-masing diisi 10 tim.
Perubahan signifikan juga terjadi pada sistem promosi dan degradasi. Setiap grup akan menghasilkan satu juara yang otomatis promosi ke Liga 1. Satu tiket tambahan menuju kasta tertinggi akan diperebutkan oleh dua tim runner-up dari masing-masing grup.
Sebaliknya, tim yang finis di peringkat ke-10 dari tiap grup akan langsung terdegradasi ke Liga 3. Peringkat ke-9 akan menjalani laga play-off untuk menentukan nasib mereka.
Langkah ini menandai keseriusan PT LIB dalam meningkatkan kualitas Liga 2 secara menyeluruh, baik dari sisi teknologi, infrastruktur, hingga format kompetisi yang lebih transparan dan kompetitif. [way/suf]






