Kediri (beritajatim.com) – Dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah perkotaan, tim dosen dan mahasiswa Program Studi Akuakultur melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Perumahan Pelita Indah, Kota Kediri.
Kegiatan ini diinisiasi oleh tiga dosen, yakni Bu Vina Nur Nadiro, M.P., Bu Rizky Kusma Pratiwi, S.Pi., M.P., dan Bu Andi Masriah, S.Pi., M.Si., bersama empat mahasiswa aktif Program Studi Akuakultur, yaitu Mochammad Ravi, Rizki Romadhona, Nur Aini Sabrina, dan Putri Fauzia.
Program ini memiliki judul “Pemanfaatan Lahan Terbatas melalui Budikdamber Ikan Lele dan Kangkung yang Efektifserta Berkelanjutan di Perumahan Pelita Indah, Desa Bandar Kidul Kota Kediri, Jawa Timur”. Sistem budidaya yang diperkenalkan adalah budikdamber (budidaya ikan dalam ember), sebuah metode sederhana dan efisien yang memadukan pemeliharaan ikan lele di dalam ember dengan penanaman kangkung pada bagian atasnya.
Air yang digunakan untuk pemeliharaan ikan sekaligus menjadi media penyubur bagi tanaman kangkung, sehingga tercipta sistem terpadu yang hematair, hemat lahan, dan ramah lingkungan.
Menurut Bu Rizky Kusma Pratiwi, S.Pi., M.P., penerapan sistem budikdamber sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan yang umumnya memiliki keterbatasan lahan.
“Metode ini memungkinkan masyarakat memproduksi sumber protein hewani dari ikan lele dan sayuran segar dari kangkung secara bersamaan, bahkan di area yang sangat terbatas. Hal ini menjadi salah satu solusinyata untuk mendukung kemandirian pangan rumah tangga,” jelasnya.
Pelatihan ini melibatkan peserta dari warga Perumahan Pelita Indah dengan antusiasme tinggi. Materi pelatihan disusun secara komprehensif, mulai dari pengenalan konsep budikdamber, persiapan media dan peralatan, teknik pemilihan bibit ikan leledan tanaman kangkung, metode pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, hingga prosedur panen yang tepat. Tim pengabdian juga menyediakan sesi praktik langsung, di mana setiap peserta diajak untuk mencoba membuat instalasi budikdamber sendiri di lokasi kegiatan.
Bu Vina Nur Nadiro, M.P. menjelaskan bahwa keberhasilan metode ini tidak hanya bermanfaat untuk konsumsi pribadi, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.
“Jika dikelola dengan baik, budikdamber dapat menjadisumber pendapatan tambahan. Modalnya relatif rendah, perawatannya mudah, dan pasarnya cukup luas karenakebutuhan ikan lele dan sayuran segar selalu ada,” ungkapnya.
Sistem budikdamber memanfaatkan siklus alami antara ikan dan tanaman. Limbah organik dari ikan menjadi nutrisi bagitanaman, sehingga tidak ada air yang terbuang sia-sia. Konsepini selaras dengan prinsip pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Rangkaian kegiatan berlangsung dengan suasana interaktif. Peserta aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba teknik yang diperagakan. Tim dosen dan mahasiswa juga membagikan panduan tertulis sebagai referensi lanjutan bagi peserta yang ingin memulai budikdamber dirumah.
Kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menciptakan inovasi sederhana untuk ketahanan pangan perkotaan. Dengan pelatihanini, warga diharapkan mampu mengoptimalkan ruang sempityang dimiliki, menghasilkan pangan sehat untuk keluarga, sekaligus berkontribusi terhadap upaya menjaga ketahananpangan di Kota Kediri.
Dengan keberhasilan pelaksanaan pelatihan ini, tim pengabdian berencana untuk melanjutkan program serupa di wilayah lain, serta mengembangkan variasi komoditas yang dapat dibudidayakan dalam sistem budikdamber. Harapannya, inovasi ini dapat terus berkembang dan menjadi budaya baru dalam bercocok tanam serta memelihara ikan di perkotaan.






